AKAL SEHAT : Mengapa ada orangtua tega libatkan anak dalam jaringan terorisme?

SEHAT – Tragedi peledakan bom Surabaya dan Sidoarjo masih menyisakan pilu. Banyak orang berduka, tak hanya untuk para korban dan keluarga, tapi juga sebagian pelaku.

Sebab, para pelaku yang juga orangtua sampai tega melibatkan anak-anak dalam aksi mereka. Kasus inipun menjadi perhatian Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Pasal 76C Undang-Undang Perlindungan Anak jelas menyebut, larangan bagi siapa pun untuk menyuruh anak melakukan tindak kekerasan.

Saat ditemui dalam konferensi pers kejahatan terorisme, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Rita Pranawati mengungkapkan, alasan orangtua melibatkan anak-anak dalam aksi terorisme.

“Mereka (orangtua) menganggap, anak sebagai aset. Jadi, anak boleh diperlakukan apa saja. Bahkan diikutsertakan dalam aksi terorisme,” ungkap Rita di Kantor KPAI,Jakarta, ditulis Rabu (16/5/2018).

Pada sistem pengadilan pidana anak juga tidak menyebut, anak bebas diperlakukan apa saja oleh orangtuanya.

Anak bukan aset

Bagi orangtua, ada satu hal yang perlu dipahami. Anak bukanlah semata-mata aset, yang bebas diperlakukan.

“Anak itu bukan aset. Sangat penting bagi orangtua agar tidak memanfaatkan anak (tindakan negatif),” Rita menambahkan.

Orangtua sebaiknya memanusiakan anak dengan baik. Beri pengasuhan yang baik dan penuhi hak-hak anak. Mulai hak untuk bermain, mendapatkan pendidikan, perlindungan sampai akses kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *