Cerita Ridwan Kamil Anak Perempuannya Jadi ‘Korban’ Sistem Zonasi

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mulai memberlakukan sistem zonasi. Aturan tersebut tertuang dalam Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018, tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

Namun, pemberlakukan sistem tersebut kini menjadi polemik di masyarakat. Sebab, beberapa anak justru terhambat untuk mendapatkan sekolahnya, meski pun sejatinya aturan ini untuk mencegah berebutnya sekolah favorit dan mengutamakan sekolah terdekat dari tempat tinggal si murid.

1. Anak Ridwan Kamil jadi ‘korban’ sistem zonasi

Cerita Ridwan Kamil Anak Perempuannya Jadi 'Korban' Sistem ZonasiIDN Times/Irfan Fathurochman

Aturan ini berlaku di seluruh Indonesia, tak terkecuali anak dari Wali Kota Bandung Ridwan Kamil sekali pun, Zara. Pengalaman itu diceritakan sang calon gubernur Jawa Barat terpilih melalui akun Instagramnya, @ridwankamil.

“Zara, anak perempuan saya, NEM nya bagus dan mendaftar ke SMPN 2 Bandung. Namun ia tidak diterima karena tergeser oleh kuota sistem zonasi PPDB Kota Bandung versi awal, sebelum yang sekarang. Zara tidak terima. Ia merasa ini tidak adil. Ia menangis dan bertanya-tanya. Saya pun sebagai ayahnya ikut patah hati,” tulis Ridwan Kamil, Rabu (11/7).

Namun, Ridwan Kamil berusaha membujuk sang anak agar mematuhi aturan tersebut. Bagaimana pun aturan harus dihormati dan ditaati. Setelah diberikan pemahaman tersebut, Zara pun menuruti nasihat sang ayah.

“Setelah saya terangkan perlahan, bahwa itu adalah sebuah peraturan yang harus kita hormati. Dan hidup yang mulia adalah hidup yang taat aturan dan syariat, akhirnya ia berhenti menangis dan mencoba paham,” ujar dia.

2. Ridwan Kamil mendapat pelajaran berharga dari pengalaman ini

Cerita Ridwan Kamil Anak Perempuannya Jadi 'Korban' Sistem ZonasiIDN Times/Irfan Fathurochman

Ridwan Kamil bercerita, banyak orang berusaha mempengaruhi dirinya agar melakukan abuse of power atau menyalahgunakan kekuasaannya sebagai wali kota, untuk memasukan sang anak ke sekolah yang diinginkan. Namun, dia akhirnya tetap pada keteguhan mematuhi aturan tersebut.

“Banyak pihak tanya ‘Anda kan Walikota, Anda kan punya kuasa atuh, bisa kali nyelipin buat anaknya sendiri. Masa tega sih ama anaknya sendiri?!’ Saya telan percakapan2 itu. Saya diskusikan panjang dengan Bu Cinta. Dan kami pun sepakat kami taati aturan aja walau pahit,” kata dia.

Menurut pria yang akrab disapa Kang Emil, apa jadinya jika dirinya sebagai pemimpin justru ikut melanggar aturan seacara diam-diam. “Nilai hidup apa yang akan menempel seumur hidupnya Zara, jika ia kami paksa masuk dengan cara yang tidak baik. Maka pastilah ia akan meyakini bahwa berbohong itu boleh, demi sebuah tujuan. Nauzubillah,” ujar dia.

Kini, Zara dapat menyesuaikan diri, mencari bahagia dan kegembiraan di sekolah SMP swasta sesuai aturan tersebut. Menurut Ridwan Kamil, kesuksesan tidak selalu harus belajar di sekolah negeri.

“Semoga ini menjadi hikmah, bahwa mungkin kita tidak menyukai sebuah aturan yg membuat kita di pihak yang kalah. Namun aturan tetaplah aturan. Mari kita hormati. Kesuksesan tidak selalu harus dengan bersekolah di negeri. Kesuksesan datang dari bagaimana kita berdamai dengan takdir, dan bergerak menyiasatinya dengan ikhtiar baru diperkokoh dengan doa. Hatur Nuhun,” tutup Ridwan Kamil.

3. Warganet memberi respons positif dan pujian pada Ridwan Kamil

Ridwan Kamil tersebut pun mendapat raksi dari warganet. Mereka umumnya memberkan pujian atas kearifan pria bernama lengkap Mochamad Ridwan Kamil itu.

Seperti disampaikan pemilik akun @gozali.susanto, yang memuji sikap Ridwan Kamil yang memberikan contoh baik pada sang anak itu.

“Salut respek. karakter logam mulia 99.99….semoga sukses dlm keluarga dan jabatan amanah aminn…,” tulis pemilik akun @gozali.susanto di kolom komentar.

Pujian juga datang dari warganet pemilik akun @adi_sostro. Menurut dia, Ridwan Kamil sudah memberikan contoh baik sebagai orangtua maupun pemimpin.

“Kang RK memberikan contoh yg baik…walau ada kekuasaan tapi tidak melanggar Aturan…apresiasi buat Kang RK..???.”

Ada juga warganet yang mengkritisi kebijakan sistem zonasi. Apalagi jika pengalaman yang dialami Ridwan Kamil dialami warga yang tidak mampu secara ekonomi, yang umumnya mengandalkan sekolah negeri karena biayanya relatif lebih murah.

“Bagaimana jika itu terjadi pada keluarga yg kurang mampu pak @ridwankamil? Karena ga sedikit org tua yg berharap anaknya masuk sekolah negri dgn alasan agar biayanya terjangkau. Mohon pencerahan dan solusinya pak ??,” tulis pemilik akun @zambas24.