Di tangan siapa tombol nuklir Korea Utara ketika Kim Jong-un di Singapura?

Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un hari ini boleh jadi merupakan peristiwa paling penting dalam pembahasan nuklir sejak era Perang Dingin.

Presiden AS pastinya punya akses kepada persenjataan nuklir setiap saat di mana pun berada. Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana cara Kim mengakses senjata nuklirnya ketika dia bepergian jauh?

Awal tahun ini Kim menyatakan kepada dunia tombol nuklir selalu berada di meja kerjanya. Pernyataan itu dianggap pemimpin Korut selalu punya kendali atas persenjataan nuklir mereka.

Dilansir dari laman the Straits Times, Senin (11/6), ketika itu Trump membalas dengan mengatakan dalam akun Twitternya, ‘Saya juga punya tombol nuklir dan tombol itu lebih besar dan lebih kuat, dan berfungsi!”

Ketika kedua pemimpin bertemu di Singapura hari ini membahas perundingan soal nuklir, Trump akan selalu didampingi para stafnya yang membawa ‘tombol nuklir’ dalam bentuk peralatan yang bisa dipakai untuk memerintahkan suatu serangan senjata nuklir.

Kim Jong-un jalan-jalan di Merlion Park Vivian Balakrishnan’s Twitter page/via REUTERS

 

Korea Utara adalah salah satu negara paling ketat dan kaku dalam urusan perintah komando atas persenjataan nuklir mereka.

Sejak berkuasa pada 2011 Kim baru keluar negeri dua kali yakni ke Beijing dan ke kawasan Zona Larangan Militer ketika bertemu Presiden Korea Selatan Moon Jae-in 27 April lalu. Singapura menjadi negara paling jauh yang pernah dikunjungi Kim.

Beberapa pengamat menilai tidak mungkin Kim berani ke Singapura tanpa dia yakin dirinya tetap punya akses kepada senjata nuklirnya dan bisa memerintahkan serangan.

“Kita tidak tahu seberapa jauh perkembangan kemampuan komunikasi Korea Utara, jadi pertanyaan soal apakah Kim Jong-un bisa dengan mudah mengakses prosedur perintah komando selama di Singapura tetap sah diajukan,” kata Andrew O’neil, pakar Korea Utara di Universitas Griffith, Queensland, Australia.

“Bisa saja diasumsikan pemimpin Korut itu tidak akan dengan mudah bisa memerintahkan suatu serangan nuklir jika diperlukan,” lanjut O’Neill.

Kim tampaknya memberikan otoritas itu kepada salah satu orang terpercaya di Korut yang tetap berada di Pyongyang, termasuk Choe Ryong Hae, salah satu pejabat senior yang mengantar Kim berangkat ke Singapura, kata Michael Madden, pengamat Korut di situs 38 North.

“Kim bisa memberikan izin atau persetujuan untuk melancarkan serangan nuklir ketika dia berada di luar negeri,” kata Madden. “Ada prosedur untuk melakukan itu.”

Pejabat terpercaya akan memantau jaringan komunikasi di Korut dan sepertinya mereka punya sistem kode untuk mengaktifkan prosedur peluncuran rudal balistik.

Meski begitu masih ada pertanyaan yang belum terjawab soal apakah Korut memiliki sistem komunikasi yang cukup kokoh untuk memastikan tidak seorang pun panik dan dengan gegabah melancarkan serangan, kata Vipin Narang, profesor di Institut Teknologi Massachusetts untuk Program Studi Keamanan.

“Struktur komando dan kendali mereka ketika Kim pergi ke luar negeri tampaknya tidak cukup kokoh untuk bisa membuat Kim mengizinkan suatu serangan atau membatalkan serangan,” kata dia.