Diundang bos FIFA, bocah Thailand tetap tak bisa nonton final Piala Dunia di Rusia

Delapan anak laki-laki yang diselamatkan dari dalam gua di Thailand telah dinyatakan sehat oleh dokter. Mereka tidak menderita demam atau penyakit serius lain setelah dua pekan terjebak dalam gua.

“Semuanya berada dalam kondisi fisik dan mental yang baik,” kata Sekretaris Kesehatan Umum, Dr Jaseda Chokedamrongsuk dalam sebuah konferensi pers, dikutip dari Straits Times, Selasa (10/7).

“Anak-anak itu dalam kondisi sadar, bisa makan, bergerak dan berbicara seperti biasa,” tambahnya.

Meski demikian, tim medis tidak mau ambil risiko menyangkut pemulihan fisik mereka. Oleh karena itu, anak-anak tersebut masih dikarantina dan tidak diperbolehkan melakukan kontak fisik dengan orang lain termasuk keluarga.’

Mereka diberi suntikan tetanus, rabies, hingga antibiotik setelah menunjukkan tanda-tanda pneumonia. Selain itu, mereka juga diberi kacamata hitam yang bisa dipakai untuk menyesuaikan diri dengan cahaya di siang hari setelah beberapa hari terperangkap dalam gelap.

“Empat anak laki-laki yang diselamatkan di tahap pertama bisa melihat dengan baik dan kondisi matanya masih normal. Tetapi empat anak dikeluarkan pada tahap kedua masih mengenakan kacamata hitam. Kami akan memeriksa mereka hari ini apa sudah bisa menyesuaikan diri dengan cahaya,” jelas Jesada.

Jesada menuturkan salah satu alasan anak-anak tersebut bisa bertahan hidup begitu lama di bawah tanah adalah karena mereka pemain sepak bola yang umumnya kuat secara fisik dan memiliki kekebalan tinggi.

Namun meski demikian, Jesada menegaskan anak-anak tersebut tidak mungkin menonton final Piala Dunia 2018 di Rusia meski telah mendapat undangan langsung dari bos FIFA Gianni Infantino.

“Anak-anak memang ada dalam kondisi baik, namun mereka akan tetap tinggal di rumah sakit sampai seminggu ke depan. Mereka kemungkinan besar akan menonton (Piala Dunia) lewat televisi,” beber Jesada.

Selain harus menerima pemeriksaan fisik, anak-anak tersebut juga akan menerima pemeriksaan psikis. Para ahli akan melihat apa mereka menderita trauma psikologis jangka panjang seperti PTSD, mengingat mereka telah terjebak selama dua pekan tanpa kontak dengan dunia luar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *