Ini 4 dampak mengerikan depresi terhadap otak

Depresi merupakan gangguan kejiwaan yang semakin umum dialami manusia modern. Gangguan ini dapat mempengaruhi seseorang secara psikologis, namun juga memiliki potensi untuk mempengaruhi struktur fisik di otak.

Perubahan fisik ini biasanya berupa peradangan dan kurangnya asupan oksigen, hingga penyusutan otak. Singkatnya, depresi dapat memengaruhi pusat kendali sistem saraf Anda.

Bagi Anda yang tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana depresi dapat memengaruhi otak dan cara-cara untuk menghindarinya, berikut ini kami bahas selengkapnya seperti dilansir Healthline.

1. Penyusutan otak

Riset terbaru menemukan bukti bahwa bagian tertentu dalam otak pasien depresi menunjukkan penyusutan. Pertanyaan yang sedang dicari jawabannya oleh para peneliti saat ini adalah bagian otak mana yang bisa menyusut akibat depresi dan sampai sejauh mana penyusutan bisa terjadi.

Walaupun begitu, studi yang ada saat ini menunjukkan bahwa bagian-bagian yang mungkin mengalami penyusutan adalah hipokampus, talamus, amigdala, lobus frontal dan korteks prefrontal. Penyusutan yang mungkin terjadi dipengaruhi oleh lama depresi dan tingkat keseriusannya.

Bisa disimpulkan, ketika bagian otak menyusut, fungsi yang terkait dengan bagian otak tersebut ikut terpengaruh. Misalnya, korteks prefrontal dan amigdala bersinergi untuk mengendalikan respons emosional dan pengenalan isyarat emosional pada orang lain. Penyusutan di bagian ini berpotensi menimbulkan penurunan empati pada individu yang mengalami depresi postpartum (PPD).

2. Peradangan otak

 Penelitian terbaru juga telah menemukan mata rantai antara inflamasi dan depresi. Walaupun begitu masih belum bisa dipastikan apakah inflamasi yang menyebabkan depresi atau sebaliknya.

Inflamasi otak selama depresi dikaitkan dengan lamanya seseorang menderita depresi. Sebuah penelitian teranyar menunjukkan bahwa orang-orang yang depresi selama lebih dari sepuluh tahun mengalami inflamasi atau peradangan hingga 30 persen lebih berat daripada orang-orang yang menderita depresi dalam periode waktu lebih singkat.

Karena inflamasi otak bisa menyebabkan sel-sel otak mati, kondisi ini bisa berujung pada penyusutan otak, penurunan fungsi neurotransmiter, dan berkurangnya kemampuan otak untuk berubah seiring pertambahan usia.

Bersama kondisi di atas, lambatnya tumbuh kembang otak, kesulitan belajar, daya ingat yang rendah, dan suasana hati yang tidak stabil juga bisa menjadi efek samping.

3. Kekurangan oksigen

Depresi telah dikaitkan dengan berkurangnya oksigen dalam tubuh. Perubahan ini mungkin karena perubahan pernapasan yang disebabkan oleh depresi. Namun masih belum diketahui secara pasti apakah depresi yang menyebabkan kurangnya oksigen atau justru kurang asupan oksigen yang menjadi pemicu depresi.

Faktor sel yang diproduksi sebagai respons terhadap otak yang tidak mendapatkan cukup oksigen (hipoksia) meningkat pada sel-sel imun spesifik yang ditemukan pada orang dengan gangguan depresi mayor dan gangguan bipolar.

Secara keseluruhan, otak sangat sensitif terhadap penurunan jumlah oksigen, sehingga dapat menyebabkan peradangan, cedera sel otak, atau bahkan kematian sel otak.

Seperti yang telah kita pelajari, peradangan dan kematian sel dapat mengarah ke sejumlah gejala yang terkait dengan gangguan pertumbuhan, pembelajaran, memori, dan suasana hati.

Bahkan hipoksia jangka pendek dapat menyebabkan kebingungan, seperti yang biasa terjadi pada pendaki gunung. Kurangnya oksigen membuat konsentrasi menurun dan mudah tersesat.

4. Perubahan jaringan dan struktur

– Efek depresi terhadap otak juga bisa berujung pada perubahan struktural dan jaringan. Kondisi ini meliputi penurunan fungsi hipokampus yang berdampak pada gangguan memori, penurunan fungsi korteks prefrontal yang berkaitan dengan konsentrasi, serta penurunan fungsi amigdala yang mempengaruhi suasana hati dan regulasi emosi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *