Jaga daya saing, produsen obat lokal tengah kencangkan ikat pinggang

Pemerintah Jokowi-JK mengatur harga obat agar dapat dijangkau oleh masyarakat melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Hal ini kemudian membebani pelaku industri farmasi karena masyarakat beralih menggunakan obat BPJS yang dinilai lebih murah.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Komite Perdagangan dan Industri Bahan Baku Farmasi Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi Vincent Harijanto. Menurutnya,selain JKN, produsen obat lokal juga dibelit masalah pelemahan nilai tukar yang membuat bahan baku mahal.

“Meskipun mereka (pelaku industri) beli (bahan baku) lebih mahal, tapi karena efisiensi, mereka bisa mempertahankan harga bahkan justru menekan harga. Setiap industri saya rasa punya strateginya masing-masing,” tuturnya di Hotel Milenium,Jakarta, Rabu (11/7).

Dia menceritakan keluhan ini telah banyak disampaikan oleh pelaku industri. Bahkan apotek yang tidak bekerja sama denganBPJS. “Karena BPJS ini sudah ada ketetapan harga jual oleh industri farmasi. Jadi tidak bisa diubah tidak bisa dinaikkan menyesuaikan dengan industri farmasi yang lain. Itu yang membuat sulit. Makanya saya bilang tadi mungkin saja ada (industri yang menaikkan harga obat), tapi apakah berani semena-mena menaikkan harga? Tidak mungkin,” ujarnya.

Vincent mengatakan, dalam pengadaan obat di rumah sakit tidak semua pengusaha memenangkan tender. Bahkan dari sekian banyak, kadang kala yang memenangkan tender hanya satu. Hal ini kemudian berdampak tidak lakunya berbagai obat yang telah diproduksi.

“Mereka juga harus menyadari di luar BPJS itu ada produk-produk yang sama. Karena BPJS ini kan bukan di supply dari semua industri, yang menang cuma satu. Yang lain tetap produksi (obat juga). Tapi jadi sepi pembeli,” katanya.

Vincent menambahkan, dalam menutup biaya produksi untuk tetap dapat bersaing biasanya para pelaku industri melakukan efisiensi dengan penghematan operasional. Apalagi saat ini tengah terjadi pelemahan Rupiah terhadap USD, padahal 95 persen komposisi obat berasal dari impor.