Krisis Ekonomi Warga Sudan Simpan Uang di Bawah Kasur ketimbang di Bank

Krisis Ekonomi Banyak warga Sudan kini lebih suka menyimpan uang mereka di bawah kasur daripada di bank. Alasannya karena jika mereka menabung di bank, akan sulit untuk menariknya kembali akibat banyak mesin ATM yang sering kosong. Demikian menurut laporan jurnalis Afrika, Zainab Muhammad Salih di Ibu Kota Khartoum.

“Namun ketika uang tunai tersedia (dalam sebuah mesin ATM), antrean panjang akan mengular dan itu telah menjadi situasi normal yang baru di Khartoum,” kata Salih seperti dilansir BBC, Kamis (10/1).

Pergulatan warga yang hendak membeli roti dan kacang, salah satu pangan primer di Sudan, telah menjadi gambaran tersendiri mengenai krisis ekonomi yang melanda negara yang dipimpin oleh Presiden Umar al-Bashir sejak tiga dekade terakhir, tutur Salih.

“Sepulang dari kerja larut malam, saya sering harus menunggu satu jam untuk sampai ke sebuah toko roti hanya untuk diberi tahu bahwa tidak ada yang tersisa.”

Krisis Ekonomi Parah

“Makanan lain menjadi mahal bagi banyak orang di ibu kota.”

“Kacang fava, atau fuul, dianggap sebagai bahan pokok di sini, dan lazimnya dapat ditemukan di setiap sudut toko. Tetapi toko di sebelah tempat saya tinggal sekarang telah berhenti menjualnya, karena pemiliknya menjelaskan kebanyakan orang tidak mampu lagi membelinya.”

“Saya melihat, setelah kembali dari tinggal enam bulan di AS sejak September 2018, orang-orang terlihat lebih kurus di sini.”

Krisis Ekonomi di Sudan: Mata Uang Melemah dan Inflasi

Zainab Muhammad Salih menjelaskan, masalah awal dari krisis ekonomi di Sudan berawal dari upaya pemerintah untuk mencegah keruntuhan ekonomi dengan langkah-langkah penghematan darurat dan devaluasi mata uang yang tajam.

Pada Desember 2018, USD 1 setara sekitar 76 pound Sudan di kios ilegal barter valuta. Itu menunjukkan melemahnya mata uang pound Sudan terhadap dolar AS, yang enam bulan sebelumnya berkisar di taraf USD 1 untuk 40 pound Sudan.

Harga juga naik. Tingkat inflasi tahunan mencapai 68 persen di bulan November dibandingkan dengan 25 persen di tahun sebelumnya.

Sebagai bagian dari langkah-langkah penghematan, pemerintahan Presiden Sudan Umar al-Bashir telah mengurangi subsidi pada bahan bakar dan roti, yang mengarah pada kenaikan biaya komoditas dasar.

Kenaikan harga roti bulan lalu memicu gelombang protes massa, yang masih berlangsung. Mereka memulai di kota Atbara di timur pada 19 Desember 2018 untuk kemudian membakar markas besar Partai Kongres Nasional (NCP) yang berkuasa.