Langkah Karibia dalam Melindungi Ekosistem Laut

Sektor pariwisata dan perikanan di kawasan Kepulauan Karibia, akan memulai babak baru dalam pengolahan gas rumah kaca (green house gases) dan tingkat keasaman laut.

Direktur Eksekutif dewan perikanan Kepulauan Karibia, Milton Haughton, mengatakan proyek ini akan akan dibantu oleh dewan energi atom internasional.

“Saya sangat percaya jika kami mampu memulainya tahun depan,” ujar Haughton, seperti yang dikutip dari AFP, Senin (15/10).

Ia menuturkan Kepulauan Karibia juga akan membangun laboratorium, serta melatih para personel untuk menyiapkan program ramah lingkungan ini.

Menurutnya para peneliti percaya jika salah satu penyebab kerusakan terumbu karang dan ekosistem laut adalah tingkat keasaman air laut, yang disebabkan oleh emisi karbon.

“Tingginya tingkat keasaman ini menyebabkan permasalahan serius di lautan. Salah satu contohnya adalah pemutihan terumbu karang,” katanya.

“Padahal realitanya para nelayan di Kepulauan Karibia, sangat tergantung pada tingkat kesehatan terumbu karang. Hal ini juga akan berpengaruh pada sektor pariwisata.”

Salah satu tujuan jangka panjang proyek ini adalah dunia yang bebas dari emisi karbon pada 2050, atau setidaknya memperkecil potensi buruk dari pemanasan global.

Gas rumah kaca adalah gas-gas di atmosfir yang memiliki fungsi seperti panel-panel kaca di rumah kaca. Gas ini bertugas menangkap energi panas matahari agar tidak dilepas seluruhnya ke atmosfir kembali.

Tanpa gas-gas ini, panas akan hilang ke angkasa dan temperatur rata-rata Bumi dapat menjadi lebih dingin.

Gas rumah kaca terjadi ketika sinar matahari memasuki atmosfir bumi, sinar tersebut harus melalui lapisan gas-gas rumah kaca. Setelah mencapai seluruh permukaan bumi, tanah, air, dan ekosistem lainnya menyerap energi dari sinar tersebut.

Setelah terserap, energi ini akan dipancarkan kembali ke atmosfir. Sebagian energi dikembalikan ke angkasa, tetapi sebagian besar ditangkap oleh gas-gas rumah kaca di atmosfir dan dikembalikan ke bumi sehingga menyebabkan suhu di bumi menjadi lebih panas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *