Mengenal Aliko Dangote, pria dengan gelar haji jadi orang terkaya di benua Afrika

Benua Afrika merupakan benua terbesar kedua di dunia dengan Sumber Daya Alam (SDA) melimpah ruah di daratannya. Mungkin banyak yang belum tahu bahwa Kongo dan Botswana memiliki persediaan berlian yang melimpah, sementara Ghana, Mali, dan Burkina Faso terkenal dengan emasnya.

Sejauh ini, yang banyak diketahui secara luas adalah berbagai permasalahan ekonomi yang melanda negara-negara Afrika, bahkan Kongo berada di daftar negara dengan pendapatan per kapita paling rendah di dunia.

Meskipun begitu, di setiap tempat pasti ada sosok yang hartanya dominan, tak terkecuali di Afrika. Inilah sosok Aliko Dangote asal Nigeria, seorang haji yang didaulat sebagai orang terkaya di Afrika. Walaupun jumlah hartanya menurun USD 2 miliar, tetapi dia masih menjadi orang terkaya di benua itu.

Menurut laporan Forbes, total kekayaan dari Dangote saat ini adalah USD 12,1 miliar atau setara Rp 174 triliun pada kurs saat ini. Angka itu menurun dari kekayaan Maret lalu sejumlah USD 14,1 miliar, tetapi dia masih menyandang gelar terkaya.

Pria terkaya kelahiran Kano tersebut adalah seorang Muslim dan dia akrab dikenal dengan gelar haji (Al Haji). Dangote memegang gelar orang terkaya di Afrika sejak 2013.

Dangote adalah ketua dari Dangote Cement, penghasil semen terbesar di Afrika. Pria berusia 61 tahun ini juga menanamkan modal di perusahaan manufaktur garam, gula, dan tepung.

Selain mendapat predikat terkaya, Dangote juga sempat mendapat peringkat 66 di daftar ‘Powerful People’, dia juga pernah tampil di daftar ‘Most Powerful People in Business’.

Dangoke memang seorang konglomerat sukses. Dia mengaku sudah mulai suka bisnis sejak masih kecil. Pada saat kecil, dia mengaku membeli permen untuk kemudian dijual lagi ke teman-temannya.

Kemampuan bisnis Dangote memang harus diakui, walaupun harus diketahui bahwa dia berasal dari keluarga terpandang. Kakeknya adalah pedagang beras dan oat di Kano.

Kemudian, pamannya memberikan Dangote pinjaman sebesar USD 3.000 agar keponakannya yang masih berusia 21 tahun bisa memulai bisnis impor komoditas agrikultur di Nigeria.

Pria dengan tiga anak ini juga termasuk dermawan, sempat dilaporkan bahwa dia memberikan donasi sebesar USD 750 ribu untuk melawan penyebaran penyakit ebola.