Mengerek pundi-pundi rupiah pengembang game Indonesia

Industri game di Indonesia pada dasarnya memiliki potensi yang besar. Memilik data dari Newzoo tahun 2017 menyebutkan bahwa revenue industri game tanah air mencapai USD880 juta. Hanya saja, nilai sebanyak itu masih dinikmati oleh pengembang game luar negeri.

“Masalahnya, seberapa banyak porsi yang didapatkan para pengembang di Indonesia? Itu jumlahnya kecil. Baru mencapai 1 digit atau 1 persen saja,” ungkap Narendra Wicaksono, Ketua Asosiasi Game Indonesia (AGI) diĀ Jakarta, Selasa (10/7).

Mengapa begitu? Menurut Operational Manager AGI, Jan Faris Majo, ada beberapa penyebab porsi para pemain lokal hanya mendapat kue 1 persen saja. Pertama, soal kualitas para pengembang lokal yang masih jauh dibandingkan dengan sumber daya manusia di luar negeri.

“Harus diakui, kita belum bisa menyaingi kualitas sumber daya manusia pengembang global saat ini,” jelasnya.

Kemudian yang kedua adalah soal pemasaran. Soal pemasaran ini kerap menjadi batu sandungan bagi para pengembang game. Maklum, budget para pengembang game terbatas. Sehingga, mereka hanya fokus memasarkan game-nya itu melalui media sosial.

“Masih sedikit, perusahaan yang dedicated untuk mengeluarkan budget kampanye marketing mereka. Rata-rata mereka masih pakai sosial media,” terangnya.

Meski begitu, ia mengakui untuk mencoba meningkatkan kue revenue bagi para pengembang game. Seperti halnya melakukan kegiatan-kegiatan promosi untuk pengembang bekerja sama dengan pemangku kepentingan.

Dengan cara ini, setidaknya berharap hasil karya pengembang game nasional mampu dikenal masyarakat.

“Target tertentu untuk menaikan belum ada angka yang spesifik. Tapi kita mencoba 2 digit atau di atas 10 persen dalam waktu 3-5 tahun,” jelas Jan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *