Microsoft ajak perempuan muda mendalami industri teknologi

TEKNOLOGI – Microsoft menyebut adanya ketidakseimbangan gender antara laki-laki dan perempuan dalam bidang Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Teknik dan Matematika (STEM) saat ini.

Padahal, masih terbukanya kesempatan pemberdayaan perempuan muda Indonesia untuk terjun dan memecahkan kesenjangan dalam industri STEM tersebut.

Enterprise Commercial Director Microsoft Indonesia, Nina Wirahadikusumah mengatakan, ada tiga area kunci yang menjadi cikal bakal mendorong perempuan muda dalam karir yang berhubungan dengan STEM. Menurutnya, tiga area itu untuk mendorong hal itu.

“Pertama, meningkatkan eksposur dengan tokoh panutan di bidang STEM, kedua menciptakan peluang dengan pengalaman langsung yang menunjukkan bagaiman STEM dapat membentuk masa depan dan ketiga adalah membantu seseorang membayangkan masa depan bersama STEM,” jelasnya melalui keterangan resmi, Sabtu (21/4).

Sementara, menurut Hanifa Ambadar, Founder & CEO jaringan media digital, Female Daily Network, eksposur terhadap tokoh panutan perempuan mematahkan stigma umum di masyarakat bahwa STEM adalah maskulin dan bidang tersebut diperuntukkan untuk laki – laki.

“Sekolah-sekolah saat ini dapat mengubah persepsi anak perempuan terhadap bidang STEM dengan cara memberikan eksposur terhadap role model bagi siswa perempuan melalui kerjasama dengan tokoh-tokoh perempuan setempat, seperti alumni, yang menekuni bidang STEM untuk berbagi cerita bahwa perempuan berperan sangat penting dalam bidang STEM,” katanya.

Selain itu, sekolah sekolah juga dapat mengimplementasikan pengalaman langsung untuk siswi di usia muda dengan menggunakan perangkat yang akrab dengan siswi, seperti tablet dan PC. Teknologi itu sendiri dapat membantu siswi dalam mempelajari bidang studi STEM dengan cara yang lebih mudah dicerna.

“Pengalaman langsung membentuk hard skill dan soft skill yang diperlukan perempuan muda untuk bekerja di bidang STEM. Dengan pengalaman langsung, perempuan muda akan mendapatkan keahlian yang berharga seperti pemikiran kristis, kreativitas, pemecahan masalah, dan keterampilan komunikasi,” jelas Alamanda Shantika, seorang engineer di startup termuka di Indonesia yang menjadi pendiri sekolah teknologi gratis Binar Academy.

Saat ini, jumlah perempuan yang mengejar pendidikan dan karir di bidang STEM masih tergolong rendah meskipun teknologi telah berkembang sangat pesat dalam beberapa dekade terakhir.

Studi MasterCard juga menunjukkan bahwa perempuan merasa tidak cukup mampu berkompetisi di bidang STEM dan meresa mereka tidak akan sukses jika menekuni industri STEM. [lia]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *