Orangtua di Indonesia paling khawatirkan cyberbullying

Norton mengungkap kekhawatiran terbesar para orangtua terhadap dunia digital terkait perlindungan anak-anak yang melakukan aktivitas online melalui laporan 2017 Norton Cyber Security Insights (NCSIR): Indonesia.

Tahun ini, NCSIR mengungkapkan sebanyak 92 persen responden di Indonesia yang telah memiliki anak merasa khawatir putra-putri mereka akan dibully saat melakukan aktivitas online.

Dalam parenting, kita banyak banyak menemukan hal-hal yang baru yang belum pernah ada sebelumnya,” kata Chee Choon Hong, Direktur, Asia Consumer Business, Symantec, kepada awak media, Kamis (6/9).

Dilanjutkannya, teknologi telah mengubah cara anak-anak tumbuh sehingga orangtua membutuhkan aturan-aturan baru. Keluarga kini berada dalam era yang memandang perdebatan mengenai aturan durasi beraktivitas online hampir sama pentingnya dengan jam tidur.

Sebagian orangtua melarang anak-anak mereka mengakses media sosial atau bermain game. Sementara itu, ada pula orangtua mengawasi pertemanan instan anak-anak mereka dengan teman-teman mereka di negara lain dengan zona waktu berbeda.

“Di era digital seperti saat ini, orangtua harus memahami cara mempersiapkan, melindungi, dan memberdayakan anak-anak untuk menggunakan teknologi secara aman,” jelas dia.

Meskipun semakin khawatir, orangtua secara teratur mengawasi aktivitas online anak-anak bukanlah hal yang umum dilakukan. Bahkan, hanya 57 persen orangtua yang disurvei melaporkan selalu mengawasi anak-anak mereka ketika melakukan aktivitas online.

Sebanyak 75 persen responden melaporkan selalu mengawasi anak-anak ketika mereka berbelanja online dan 51 persen mengklaim mengawasi mereka ketika berkomunikasi melalui video.

Dari orang semua tua yang disurvei, hanya 57 persen melaporkan selalu mengawasi anak-anak ketika menggunakan media sosial dan 50 persen akan mengawasi anak-anak ketika mereka membuka atau menulis email.