Penjaga Kekayaan Alam Papua Masih Di Bawah Garis Kemiskinan

Masyarakat adat penjaga hutan tropis di wilayah Provinsi Papua dan Papua Barat masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Juru Bicara Koalisi Peduli Ruang Hidup Papua Barat (KPRHPB), Andi Saragih, mengatakan perlu upaya luar biasa baik pemerintah pusat maupun daerah untuk mengentaskan kemiskinan di daerah tersebut.

“Luas hutan di Tanah Papua mencapai 37,5 juta hektare atau sekitar 87,38 persen dari luas total daratan Papua dan Papua Barat. Jumlah masyarakat adat mencapai lebih dari 3 juta jiwa dan mereka adalah memiliki hak ulayat yang punya peran penting dalam menjaga hutan,” kata Andi di Manokwari seperti yang dikutip dari Antara pada Selasa (9/10).

Hutan Papua, lanjutnya, memiliki ancaman deforestasi atau kerusakan cukup serius dalam dua dekade terakhir.

Dari hasil kajian Forest Watch Indonesia dalam tujuh tahun terakhir dari 2009 hingga 2016 deforestasi di Tanah Papua mencapai lebih dari 170,4 ribu hektare.

Ancaman gundulnya hutan Papua berasal dari investasi pertambangan, perkebunan berskala besar serta kegiatan eksploitasi kayu serta potensi hutan lainya.

Menurutnya perlu langkah serius agar hutan Papua tetap terjaga dan memberi manfaat bagi masyarakat.

“Ancaman terhadap hutan adalah ancaman juga bagi masyarakat. Untuk itu pemanfaatan hutan sebaiknya sejalan dengan upaya untuk menyejahterakan masyarakat,” sebut Andi.

Dibanding investasi yang berbasis pada eksploitasi sumber daya hutan, kata dia, pengembangan usaha jasa lingkungan dinilai lebih ramah serta memiliki prospek ekonomi angka panjang yang lebih bagus.

“Seperti ekowisata dan ekonomi kreatif serta pembentukan hutan sosial atau hutan adat ini jauh lebih aman dibanding mendatangkan investor untuk mengeksploitasi sumber daya alam kita,” lanjutnya.

Ia berpandangan untuk mempercepat program pengentasan kemiskinan, pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten kota di Papua dan Papua Barat harus mau bekerja keras.

Program peningkatan kapasitas masyarakat harus memperoleh alokasi anggaran yang cukup.

Menurutnya, masyarakat adat harus terlibat tidak hanya pada sisi pengawasan hutan.

Pemberdayaan harus dilakukan agar mereka bisa mandiri dan lebih sejahtera.

Ada sejumlah objek wisata alam yang membuat nama Papua masyhur di kalangan turis dunia, yakni Puncak Jaya, Taman Nasional Lorentz, Puncak Trikora dan Taman Nasional Wasur.

Sedangkan di Papua Barat objek wisatanya bukan cuma Raja Ampat.

Selain wisata bahari, salah satu provinsi terujung di Indonesia ini juga memiliki objek wisata sejarah seperti Situs Purbakala Tapurarang di Fakfak dan objek wisata kuliner Tembok Berlin di Sorong.

Terdapat juga objek wisata alam seperti Taman Wisata Alam Gunung Meja di Manokwari dan Taman Nasional Teluk Cenderawasih di Telok Wondama.

Ada empat bandara utama di Papua Barat yang melayani penerbangan dari Sorong atau Biak, yakni Bandar Udara Dominique Edward Osok yang terletak di Sorong (SOQ), Bandar Udara Fakfak (FKQ), Bandar Udara Rendani di Manokwari (MKW) dan Bandar Udara Utarom di Kaimana (KNG).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *