Perempuan jadi pengebom bunuh diri bukan hal baru bagi ISIS

DUNIA – Sambil menggendong anaknya dalam dekapan, perempuan diduga pengebom bunuh diri ISIS itu meledakkan dirinya di Kota Mosul, Irak, tahun lalu. Ledakkan itu menewaskan dirinya dan si anak. Dalam beberapa pekan di 2017 sudah 20 pengebom bunuh diri perempuan berbaur di tengah warga untuk meledakkan dirinya.

Peristiwa pengeboman di tiga gereja di Surabaya kemarin juga pelakunya dikatakan salah satunya adalah seorang perempuan.

Pengamat terorisme dari Tony Blair Institute for Global Change, Rachel Bryson, mengatakan, kaum perempuan menjadi pengebom bunuh diri ISIS menunjukkan ada pergeseran dalam kelompok militan itu.

Dilansir dari laman Institut.Global, ideologi ISIS sebelumnya melarang kaum perempuan ikut bertempur atau berkorban di lapangan. Mereka ditugaskan tetap berada di rumah untuk mengurus anak supaya jadi generasi penerus jihad dan mendukung suami mereka dalam pertempuran.

Bom Surabaya 2018 REUTERS/Beawiharta

 

Namun dalam beberapa kali insiden belakangan aturan itu sudah berubah. ISIS tampaknya mulai merasakan keuntungan dengan mengerahkan perempuan sebagai pelaku serangan. Kaum hawa dipandang bisa lebih mudah menyusup barisan keamanan dan bisa menyembunyikan senjata atau bom di balik pakaian panjang mereka. Hal inilah yang terjadi ketika ISIS beraksi buat pertama kali di Iran.

Dalam konteks lain, perempuan sudah sejak lama menjadi bagian dari gerakan ekstremisme dari mulai pengebom bunuh diri di Chechnya sampai ke serangan bom bunuh diri kelompok Boko Haram di Nigeria. Di Libanon pada 1980-an juga perempuan menjadi pelaku pengebom bunuh diri atas nama Partai Sosial Nasionalis Suriah (SSNP). Di Sri Lanka kelompok militan Macan Tamil pada awal 1990-an juga terkenal dengan sosok pengebom bunuh diri Thenmozhi Rajaratnam yang membunuh perdana menteri India pada Mei 1991.

Di Irak pada 2005 pun kelompok Al Qaidah dipimpin Abu Musab al-Zarqawi melancarkan serangan bom bunuh diri dilakukan perempuan. Tiga tahun kemudian 39 pengebom bunuh diri perempuan menewaskan 363 warga dan melukai 974 lainnya.

Menurut Bryson, serangan ISIS dengan mengerahkan pengebom bunuh diri perempuan ini bisa menjadi pertanda makin putus asanya kelompok militan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *