Rakyat Sudan Tolak Dewan Militer, Inginkan Pemerintahan Sipil

Ribuan rakyat Sudan berkumpul di luar kantor Kementerian Pertahanan di Ibu Kota Khartoum untuk menuntut pembentukan pemerintahan sipil.

Mereka menolak jam malam dan menyerukan salat Jumat berjemaah. Militer Sudan kemarin menggulingkan kepemimpinan Presiden Umar al-Bashir yang sudah berkuasa 30 tahun.

Para demonstran yang selama ini turun ke jalan menuntut Bashir mundur menolak keputusan untuk pembentukan dewan militer transisi untuk menjalankan negara selama dua tahun dan mereka berjanji akan terus menggelar protes sampai pemerintahan sipil terbentuk.

Dikutip dari laman Arab News, Jumat (12/4), sejumlah aktivis menyerukan salat Jumat berjemaah di luar kompleks kementerian pertahanan.

Saksi mengatakan kepada kantor berita Reuters, para aktivis memakai rompi kuning mengatur lalu lintas jalan raya pagi tadi.

Mereka juga memblokir jembatan utama di tengah Khartoum.

Rakyat Sudan berunjuk rasa selama 16 pekan untuk menggulingkan Presiden Bashir yang berusia 75 tahun.

Menteri Pertahanan Awad Muhamad Ahmad Ibn Auf mengatakan pemilu akan dilaksanakan setelah masa transisi dua tahun.

Sejumlah negara kuat di dunia seperti Amerika Serikat dan Inggris menuturkan mereka mendukung proses transisi damai dan demokratis yang lebih cepat dari dua tahun.

Dalam siaran televisi kemarin, Ibn Auf mengatakan Bashir ditahan di sebuah lokasi aman dan dewan militer akan menjalankan negara.

Sumber di Sudan mengatakan kepada kantor berita Reuters, Bashir ditahan di kediaman presiden dan dalam penjagaan ketat.