Sederet dosa Amerika dalam perang di Yaman

Anak-anak itu tampak bergembira di dalam bus yang akan membawa mereka berlibur selepas menjalani sekolah agama di musim semi. Sebuah video yang diambil oleh salah satu di antara mereka merekam saat-saat mereka bernyanyi dan tertawa bersama.

Beberapa jam setelah bocah itu merekam, serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi menghantam bus yang ditumpangi anak-anak Yaman berusia enam hingga 11 tahun itu. Sedikitnya 40 anak dalam bus itu tewas, termasuk si bocah yang merekam video pada 9 Agustus lalu di Provinsi Saada.

“Saya mendengar ledakan keras dan debu beterbangan di mana-mana,” kata Yahya Husein, 40 tahun, guru mereka yang berada tidak jauh dari bus.

“Apa yang saya lihat tidak bisa digambarkan, potongan tubuh berserakan dan darah di mana-mana.”

“Saya terdiam lalu mulai berteriak. ‘Wahai orang-orang, wahai dunia–mereka ini cuma anak-anak,'” kata Husein.

warga Yaman gali kuburan untuk makamkan anak-anak korban serangan udara koalisi Saudi CNN

 

CNN bekerja sama dengan jurnalis Yaman dan ahli persenjataan mengungkapkan, bom yang menewaskan sedikitnya 40 anak itu adalah bom seberat 227 kilogram dengan panduan laser MK 82 buatan perusahaan Lockheed Martin, salah satu perusahaan kontraktor produsen persenjataan ternama di AS.

Dilansir dari laman CNN, Jumat (17/9), bom itu sama dengan yang digunakan ketika menyerang sebuah aula pemakaman di Yaman pada Oktober 2016 yang menewaskan 155 orang dan melukai ratusan lainnya. Koalisi mengakui membuat kesalahan dalam serangan itu dan bertanggung jawab.

Maret tahun itu serangan bom menghantam sebuah pasar di Yaman menewaskan 97 orang. Bom yang dipakai dilaporkan buatan AS dengan panduan laser MK 84.

Usai serangan ke aula pemakaman itu, Presiden Barack Obama melarang penjualan teknologi militer AS ke Arab Saudi karena alasan kemanusiaan.

Namun larangan itu kemudian dicabut oleh pemerintahan Trump pada Maret 2017.

Di saat pasukan koalisi Saudi yang didukung AS masih menyelidiki serangan ke bus sekolah itu, banyak pengamat dan pembela hak asasi mempertanyakan apakah AS bertanggung jawab secara moral dalam kejadian itu. AS mengatakan mereka tidak membuat keputusan soal target serangan pasukan koalisi yang tengah bertempur melawan pemberontak Huthi di Yaman. Namun AS mendukung operasi militer itu dengan bantuan dana miliaran dolar dalam bentuk penjualan senjata, memperkuat jet tempur Saudi dan berbagi informasi intelijen.

“Saya akan katakan kami membantu mereka merencanakan serangan. Kami tidak menentukan target mana yang harus mereka serang,” demikian kata Menteri Pertahanan AS James Mattis, seperti dilansir laman CNN, Jumat (17/8).

Menteri Kesehatan Huthi Taha al-Mutawakil pekan lalu mengatakan dari 51 orang tewas dalam serangan ke bus sekolah itu, 40 di antaranya anak-anak. Sebanyak 79 orang luka dalam peristiwa itu, 56 di antaranya anak-anak.

Saksi mengatakan kepada CNN, serangan itu mengenai bus di tengah pasar yang ramai.

“Saya melihat bom itu mengenai bus,” kata seorang saksi. “Ledakannya mengenai toko-toko dan mayat-mayat terlempar ke belakang bangunan. Kami menemukan ceceran tubuh di mana-mana. Saat itulah saya mulai lari ketakutan.”

Serpihan bom yang mengenai bus sekolah itu kemudian ditemukan dan fotonya dikirimkan ke CNN oleh seorang kontak di Saada seorang juru kamera yang bekerja untuk CNN juga kemudian merekam serpihan bom bikinan AS itu.

serpihan bom as di yaman CNN

 

Ahli senjata membenarkan, dari kode angka yang tertera di serpihan bom, jelas bom itu buatan Lockheed Martin.

Arab Saudi menyangkal mereka menyasar warga sipil dan berkeras serangan itu itu secara militer dibolehkan dan sebagai balasan atas serangan rudal balistik Huthi sehari sebelumnya.

Juru bicara Pentagon Letnan Rebecca Rebarich menolak membenarkan temuan serpihan bom bikinan AS itu.

“AS sudah bekerja sama dengan koalisi Saudi untuk meningkatkan upaya mengurangi jatuhnya korban sipil,” kata dia.

“Kami tidak bisa memastikan secara independen soal serangan yang menewaskan warga sipil itu karena kami tidak secara langsung terlibat,” kata Rebarich.

Amerika Serikat bersama Inggris dan Prancis adalah pemasok utama persenjataan ke Arab Saudi.

Mei tahun lalu Presiden Donald Trump menandatangani kerja sama pertahanan senilai USD 110 miliar dengan Raja Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud.