Bedakan Sikap Disiplin dengan Melakukan Kekerasan Terhadap Anak

Selama ini ungkapan mendisiplinkan anak kerap dianggap identik dengan memberi hukuman terutama berbentuk kekerasan pada anak.

Namun sesungguhnya dua hal ini tak seiring dan bukan cara ideal untuk diterapkan pada anak.

“Disiplin itu maksudnya adalah positif. Jadi bukan menghardik.

Bukan menimbulkan ketakutan,” kata Meita Dharmayanti, dokter spesialis anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam seminar media di kantor IDAI, Jakarta.

Meita menambahkan, disiplin positif bukan berarti anak harus diberikan hukuman.

Seharusnya, anak mampu memahami bagaimaa berperilaku dengan pantas, dilatih bertanggung jawab, sehingga mampu mengendalikan dirinya.

Menurutnya, ketika hukuman menimbulkan rasa sakit dan tidak nyaman pada anak, hal itu malah rentan membuatnya trauma.

“Itu bukan lagi disiplin, tapi sudah kekerasan,” kata Meita menambahkan.

Melakukan hukuman berupa cubitan saja juga bisa dikategorikan sebagai kekerasan ketika anak merasa kesakitan.

Hal ini berbeda dengan melakukan cubitan karena rasa gemas.

Tidak hanya orangtua yang bisa melakukan kekerasan.

Pengajar di sekolah ketika memberikan hukuman disetrap dalam waktu yang lama, juga dianggap bukan cara pendisiplinan yang positif.

“Disetrap apakah memberikan hal yang positif, kalau dilakukan dari pagi sampai siang kan bukan hal yang positif,” kata Meita menjelaskan.

Tindakan disiplin pada ini sudah tergolong sebagai kekerasan ketika menimbulkan ancaman berupa fisik dan psikis pada anak.

Oleh karena itu, pertimbangkan lagi jika berniat melakukan hal ini pada buah hati.