Ini Dampak Kebakaran Hutan Amazon Bagi Dunia

Hutan hujan Amazon Brasil merupakan keajaiban ekologis. Organisasi lingkungan, World Wildlife Fund (WWF) menempatkan Amazon sebagai hutan hujan tropis terbesar yang tersisa di dunia, karena luasnya yang setara dua kali ukuran India.

Sebagai hutan hujan tropis terbesar dunia, tak ayal jika kawasan Amazon juga dijuluki sebagai “paru-paru dunia”. Amazon menyumbang sekitar 20 persen oksigen dunia dan membantu mengatur suhu di bumi.

Selain itu, kawasan Amazon juga menjadi rumah bagi setidaknya 10 persen keanekaragaman hayati di muka bumi.

Tanpa kelestarian Amazon, perubahan iklim mungkin tidak dapat dipulihkan. Ancaman inilah yang tengah dihadapi, seiring meluasnya kebakaran lahan di kawasan hijau tersebut.

INPE, pusat penelitian luar angkasa Brasil mengatakan, jumlah kebakaran yang terjadi di kawasan hutan Amazon hingga Agustus ini mengalami peningkatan sebesar 83 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Kasus kebakaran tahun ini bahkan disebut yang terparah dalam sejarah, sejak INPE melakukan pengawasan pada tahun 2013 lalu.

Berikut ini alasan tentang mengapa peristiwa kebakaran hutan Amazon begitu penting untuk diselamatkan, seperti yang dikutip dari laman CNN.

Amazon adalah Penyerap Karbon Raksasa

Kebakaran lahan yang tengah melanda Amazon, alih-alih menjadi menyumbang oksigen bagi dunia, hutan hujan di wilayah Brasil itu justru akan menyumbang karbon ke lapisan atmosfer bumi.

WWF melaporkan, hasil asap kebakaran lahan Amazon mengandung 90 hingga 140 miliar metrik ton karbon.

Tingginya kandungan karbon di lapisan atmosfer inilah yang menjadi salah satu pemicu utama di balik perubahan iklim.

WWF menyebutkan, ketika karbon hasil kebakaran lahan memenuhi atmosfer, maka hasilnya bisa sangat menghancurkan.

Sebagaimana yang diajarkan di tingkat sekolah dasar, tumbuhan mampu menyerap zat karbon dan melepaskan oksigen.

Luasnya kawasan hutan hutan Amazon, membuatnya memiliki peranan penting karena oksigen yang dihasilkan dari semua tumbuhan di sana pun akan cukup besar.

Jika tumbuhan-tumbuhan itu hangus terbakar, maka dia tidak lagi dapat menyerap karbon. Sebaliknya, justru akan menghasilkan karbon.

Semakin luas lahan hutan yang terbakar, berarti semakin sedikit pula oksigen yang dihasilkan.

Sebelum mengalami kebakaran hebat, lahan hutan Amazon juga sudah sempat mengalami pengurangan akibat peralihan fungsi lahan dan penebangan hutan.

Akibatnya, WWF mencatat Amazon menghasilkan 0,5 miliar metrik ton karbon per tahunnya. Kebakaran yang melanda kawasan tersebut, menambah parah kandungan karbon yang dilepaskan.

Amazon Membantu Mengatur Iklim Dunia

Pada dasarnya, Amazon adalah penghasil sumber daya air. Air diserap oleh tumbuhan dan diproses menjadi uap air, untuk kemudian dilepaskan ke lapisan atmosfer bumi.

Uap air juga dihasilkan oleh aliran sungai Amazon, sungai terpanjang di dunia.

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), badan ilmiah milik Departemen Perdagangan Amerika yang fokus menangani kondisi samudera dan atmosfer, mengatakan bahwa pola cuaca sebagian besar dipengaruhi oleh arus laut.

Arus membantu mengatur cuaca, mengangkut air hangat, dan curah hujan dari garis khatulistiwa ke Kutub. Sementara, air yang lebih dingin diangkut dari Kutub ke daerah tropis.

Tanpa adanya keseimbangan arus ini, maka suhu regional akan jauh lebih ekstrem.

Lalu di mana peran Amazon? Kawasan hutan hutan Amazon yang sangat luas membuat volume air yang dihasilkan melalui penguapan pun terbilang cukup besar.

Jika kita kehilangan sebagian wilayah Amazon, maka itu berarti penguapan air yang dihasilkan pun akan berkurang. Hal ini pada akhirnya akan berkontribusi pada turunnya kestabilan iklim di bumi.

Tak ayal, kebakaran yang melanda Amazon dikhawatirkan akan memperparah peningkatan suhu bumi, seiring dengan kekeringan parah di kawasan tersebut.