Kebangkitan Al-Qaidah Di Suriah

Amerika Serikat dua hari lalu mengumumkan mereka melancarkan serangan udara ke kelompok jihadis Salafi di sebelah timur laut Suriah.

Serangan yang jarang dilakukan ke kelompok itu diduga karena ada ancaman akan terjadi serangan terhadap warga AS dan rakyat sipil.

Sasaran dari serangan udara itu adalah Hurras al-Din, perwakilan baru kelompok militan Al-Qaidah yang bercokol di Suriah.

Pemimpin kelompok itu dikatakan tengah merancang serangan terhadap Amerika atau sekutunya dari Provinsi Aleppo setelah serangan rudal pekan lalu.

“Pasukan AS melancarkan serangan udara terhadap Al-Qaidah di Suriah (AQ-S) di kamp pelatihan mereka dekat Provinsi Aleppo, Suriah,” kata pernyataan Komando Pusat AS, seperti dilansir laman Al Araby.

“Operasi ini menargetkan anggota AQ-S yang sedang berusaha melancarkan serangan untuk mengancam warga AS, sekutu kita, dan rakyat sipil.”

Menurut keterangan dari Pusat Komando AS, anggota Al-Qaidah yang tewas dalam serangan itu berasal dari negara TUnisi, Aljazair, Mesir, dan Suriah.

Hurras al-Din disebut-sebut pecahan dari kelompok Hayat Tahrir al-Syam (HTS) yang sebelumnya bernama Fatah al-Syam atau sebelumnya lagi adalah Barisan Al-Nusra.

Mereka pecah karena tidak senang dengan pandangan pemimpin Muhamad al-Julani yang lebih moderat dan pragmatis dalam ajaran Islam.

Sejumlah pengamat mengatakan, kelompok militan Hurras al-Din diketahui telah merekrut banyak anggota ISIS yang kabur setelah ‘kekhalifahan’ mereka tumbang di Irak dan Suriah.

Kelompok ini kini mendirikan jaringan di Provinsi Idlib dan Aleppo. AS sebelumnya sudah khawatir kedua lokasi itu menjadi tempat tumbuh berkembangnya radikal Al-Qaidah dan bisa berpotensi mengirimkan jihadis mereka keluar Suriah.

“Kami belum tahun seberapa senior anggota yang tewas karena serangan udara itu.

Tapi berdasarkan intelijen, pasukan koalisi berarti mampu melacak lokasi pertemuan semacam itu dan mendapat informasi untuk kepentingan tertentu,” kata Mohanad Hage Ali, direktur komunikasi dan dosen di Pusat Carnegie Timur Tengah kepada the New Arab.

Ali menduga perpecahan Hurras al-Din dengan HTS juga karena ada campur tangan Turki.

HTS selama ini dituding bersekongkol dengan Turki di Idlib. Turki diketahui mendirikan pos-pos pengamatan di sepanjang zona larangan militer di perbatasan Provinsi Idlib yang dikuasai HTS.

Tudingan itu juga berujung pada penangkapan anggota simpatisan ISIS atau Hurras al-Din oleh HTS di Idlib.

Anggota ISIS dan loyalis Al-Qaidah diyakini melancarkan serangkaian serangan bom dan pembunuhan terhadap militan HTS di Idlib.

Militan asing di kelompok Hurras al-Din memandang mereka punya kesempatan di Suriah untuk merancang serangan terhadap warga Barat.

Menurut Hage Ali, serangan udara AS ke kelompok itu bisa membuat kelompok itu kian menarik di mata para militan asing.

Proyek berikutnya dari Hurras al-Din adalah mendirikan atau menjadi cabang penting Al Qaidah di Suriah dan berpotensi mereka para jihadis asing di seluruh dunia.

Menurut Hage Ali, Hurras al-Din memandang mereka berbeda dengan faksi HTS dan Pasukan Pembebasan Suriah (FSA) di Idlib.

Kelompok Hurras al-Din lebih fokus membangun kemampuan mereka dan memperluas jaringan sel lewat perekrutan baru dan akhirnya tujuan mereka adalah bukan Suriah, tapi lebih dari Suriah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *