Kecemasan Para Keluarga Tentara Terkait Memanasnya Konflik Armenia-Azerbaijan

Perang yang terjadi di Armenia kini telah menimbulkan dampak emosional pada keluarga karena konflik tersebut merenggut puluhan nyawa setiap hari.

Setelah Armenia dan Azerbaijan mengumumkan darurat militer pada 27 September lalu, tentara dan tentara cadangan dikerahkan ke garis depan konflik.

Para relawan yang juga mendaftar termasuk dari etnis Armenia diaspora.

Keluarga di Armenia mengungkapkan perasaan mereka bercampur harapan serta ketakutan akan konflik yang terjadi sekarang dan masa depan negara mereka.

“Sepupu saya sedang menyelesaikan tugas wajibnya dan dipanggil ikut perang, ayahnya menjadi sukarelawan, mereka sekarang berada di garis depan,” kata Varduhi Movsisyan (19), seorang warga Yerevan, dikutip dari Alarabiya, Jumat (16/10).

“Kami harus berjuang agar perdamaian bisa dipulihkan, Artsakh adalah simbol patriotisme dan kemerdekaan kami,” jelas Nina Shahverdyan (20), seorang siswa di Yerevan yang berasal dari Nagorno-Karabakh, merujuk pada republik yang dideklarasikan sendiri di wilayah itu yang menjadi pusat konflik.

Kecemasan bertambah akibat perjanjian gencatan senjata yang diabaikan, dan perang berlanjut selama pekan ketiga.

“Setiap hari kami membaca berita mendengar lebih banyak orang telah meninggal, saya khawatir putra saya yang baru saja menyelesaikan dinas militernya, akan dipanggil,” kata seorang warga Yerevan yang menolak disebutkan namanya.

Penantian Panjang

Wilayah sengketa Nagorno-Karabakh secara internasional diakui sebagai bagian dari Azerbaijan, namun telah dikuasai oleh etnis Armenia sejak 1994.

Orang Armenia mengatakan mereka memiliki klaim historis atas tanah tersebut yang merupakan republik mayoritas Armenia selama Uni Soviet.

Sejak September, Azerbaijan diketahui telah berupaya untuk merebut kembali wilayah tersebut secara militer dengan alasan kegagalan proses diplomatik untuk menyelesaikan perselisihan.

Apa yang terjadi kemudian adalah saling serang dengan kerugian besar di kedua belah pihak dan sengketa klaim tentang sejauh mana kemajuan Azerbaijan.

Sampai saat ini, 300 lebih tentara Armenia dilaporkan tewas. Sementara Azerbaijan belum melaporkan kematian.

Bagi para keluarga, mendapat kabar dari tentara yang berada di garis depan perang adalah hal yang langka dan penuh penantian panjang.

“Ibuku dan nenekku menunggu kabar sepanjang hari, saya harus tegar untuk terus menghibur mereka,” kata Movsisyan.

“Kami tidak bisa menghubungi mereka, mereka menghubungi kami.

Kami tidak meminta informasi tentang keberadaan mereka, untuk saat ini tidak ada berita yang lebih baik dari berita buruk,” kata Shahverdyan.

Sejumlah pihak juga turut menyatakan keprihatinan bahwa laporan kemenangan militer diprioritaskan, sementara kerugian tidak dilaporkan.

Sebuah berita yang diterbitkan di surat kabar investigasi Novaya Gazeta, menemukan hingga 300 perwira militer mungkin telah dikumpulkan di sebuah pusat kebudayaan di Shushi, ketika itu dibom oleh pasukan Azerbaijan.

Sengketa wilayah selama beberapa dekade ini telah merugikan keluarga dan ekonomi Armenia dari generasi ke generasi.

Perang baru ini menjerumuskan negara ke dalam ketidakpastian lebih lanjut dan telah menggeser prioritas pemerintah revolusioner Armenia, yang berkuasa pada tahun 2018 menjanjikan reformasi ekonomi dan memberantas korupsi.

Sekarang fokusnya adalah memerangi perang di perbatasannya, di tengah pandemi global.

Meskipun gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober, operasi pemindahan mayat dan pertukaran tahanan ditunda karena pertempuran terus berlanjut.

Hal tersebut diperburuk oleh perang informasi antara Azerbaijan dan Armenia, tentang realitas di garis depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *