Kemungkinan Dampak Lingkungan Bila Bukit Soeharto Jadi Ibu Kota

Wacana pemindahan ibu kota negara keluar pulau Jawa oleh Presiden Joko “Jokowi” Widodo semakin nyata. Lokasi tepatnya akan diputuskan tahun 2019 ini juga.

Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto di Kalimantan Timur menjadi satu lokasi potensial calon ibu kota negara karena memiliki beberapa keunggulan, seperti diapit oleh dua bandara yang berada di Samarinda dan Balikpapan, akses jalan tol, ketinggian dari air laut yang memadai, berada di tengah-tengah Indonesia, dan relatif aman dari bencana.

Meskipun pemerintah telah menyatakan tetap berusaha mempertahankan kawasan hutan lindung ini, seperti apa dampaknya jika ibu kota negara yang baru jadi ditetapkan di Tahura Bukit Soeharto?

1. Memindahkan 1.5 juta orang sama dengan menyatukan warga Samarinda dan Balikpapan

Kemungkinan Dampak Lingkungan Bila Bukit Soeharto Jadi Ibu Kota Dok.IDN Times/Istimewa

Pemindahan ibu kota tidak hanya gedung, tapi termasuk para pegawai dan keluarganya. Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro memperkirakan 1,5 juta jiwa akan pindah ke ibu kota baru, meliputi PNS, legislatif, yudikatif, TNI, Polri, beserta keluarganya.

Menanggapi hal itu, Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Dr. Ir. Bernaulus Saragih, M.Sc. mengatakan, “Kalau memindahkan 1,5 juta orang ke daerah baru itu artinya sama dengan penduduk Balikpapan ditambah penduduk Samarinda. Bisa gak kita bayangkan kota sebesar Balikpapan dan sebesar Samarinda disatukan di Bukit Suharto. Jadi, 2 kota besar disatukan di tengah-tengahnya. Jika itu terjadi, Bukit Soeharto akan hilang,” jelas dia.

2. Hutan sebagai lahan cadangan untuk berbagai kepentingan

Kemungkinan Dampak Lingkungan Bila Bukit Soeharto Jadi Ibu Kota instagram/@septian_irwan86

Meskipun pemerintah berkomitmen untuk tetap menjaga kelestarian Tahura Bukit Soeharto sebagai hutan lindung, Bernaulus tak yakin dengan hal itu. Kemungkinan besar, area bukit Soeharto ini bisa habis karena pembangunan infrastruktur dan perpindahan 1,5 juta manusia. Ditambah lagi, para pekerja yang akan datang mencari rezeki di ibu kota baru. Sementara, kondisi Tahura Bukit Soeharto sendiri saat ini sudah banyak yang rusak karena perambahan hutan dan pertambangan ilegal.

“Selama ini, kawasan hutan selalu dianggap sebagai kawasan sisa yang belum memperoleh peruntukan final. Sehingga manakala ada rencana, ya tetap bisa dijalankan di kawasan hutan. Jadi, tidak terlalu yakin saya bahwa faktor karena ini (Bukit Soeharto) hutan lindung sebagai faktor utama penghalang keputusan itu (menjadi ibu kota negara). pasti ada argumentasi lain,” ujar dia.

Menurut Bernaulus, sejak zaman orde baru hingga kini, hutan merupakan lahan cadangan bagi negara manakala negara memerlukan lahan untuk kepentingan-kepentingan lain, misalnya untuk pertambangan, pemukiman, perkebunan, dan termasuk menjadi lokasi ibu kota yang baru.

3. Dampak lingkungan jika pemindahan itu terjadi

Kemungkinan Dampak Lingkungan Bila Bukit Soeharto Jadi Ibu Kota yayasantitian.org

Hutan Kalimantan merupakan paru-paru dunia. Meskipun Bukit Soeharto hanya sebagian kecil dari keseluruhan hutan di Kalimantan, tetap ada dampak yang ditimbulkan bagi lingkungan.

“Kalau terhadap perubahan iklim global, ya tidak signifikan dampaknya. Tapi kalau terhadap kondisi ekologi Balikpapan, Samarinda, terutama untuk kawasan Kutai Kartanegara sebagai daerah tangkapan air akan terpengaruh kuat. Sehingga, ada kemungkinan terjadi banjir dan kekeringan,” kata Bernaulus.

Selain itu, Bernaulus juga menjelaskan Bukit Soeharto merupakan hulu dari sungai-sungai kecil di sekitarnya. Pembangunan di sekitar kawasan Bukit Soeharto dapat menyebabkan gangguan pada tata air. Selain itu, risiko hilangnya keanekaragaman hayati, hutan pendidikan, serta terjadi perubahan iklim mikro dalam skala kecil juga dapat terjadi.

4. Bagaimana agar Tahura Bukit Soeharto tetap jadi ibu kota baru dengan kondisi alam yang juga terjaga?

Kemungkinan Dampak Lingkungan Bila Bukit Soeharto Jadi Ibu Kota alamendah.org

Menurut Bernaulus, pusat pemerintahan tidak harus tersentral di satu lokasi, tetapi di beberapa kota seperti yang dilakukan oleh Jerman, Spanyol, dan Belanda.

Tapi, Bernaulus pribadi merasa setuju memindahkan ibu kota negara ke Bukit Soeharto dengan beberapa kondisi.

“Saya setuju dengan cara dan dengan asumsi bahwa yang dibangun nanti green city, di mana sebelum melakukan penggusuran dan penataan areal harus memperhatikan kontur (tanah), memperhatikan asosiasi tumbuhan endemik yang mungkin bisa dilindungi,” jelas dia.

Jadi, tetap ada hutan kota yang strategis. Dia pun menyarankan untuk menghindari pembangunan di daerah mata air atau daerah terjal. “Dari segi rekayasa engineering lingkungan mungkin saja itu dilakukan. Jadi, saya asumsinya apabila perencanaannya begitu matang, kenapa tidak,” kata Bernaulus lebih lanjut.

Konsep pembangunan vertical building atau gedung-gedung tinggi misal 30-40 lantai, akan lebih hemat ruang dibandingkan horizontal yang hanya 1 atau 2 lantai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *