Kisah Beda Nasib Perawat dan Dokter Bertarung Nyawa Melawan Corona di China

Kedua ibu muda itu tidak memberitahu anak-anak mereka bahwa mereka berdua terinfeksi virus corona. Mama harus bekerja keras, kata mereka, untuk menyelamatkan orang sakit.

Tapi yang sebetulnya terjadi adalah, Deng Danjing dan Xia Sisi, harus bertarung nyawa di rumah sakit yang sama tempat mereka bekerja dalam kondisi lemah karena demam dan napas yang berat.

Hanya dalam hitungan pekan, posisi mereka berubah dari yang tadinya adalah petugas medis sebagai garda terdepan dalam memerangi wabah covid-19 di Wuhan, China, menjadi pasien dalam kondisi kritis.

Dunia kini masih berjuang untuk memahami karakter virus baru ini, gejalanya, penyebarannya dan sumbernya. Bagi sebagian orang gejalanya sama seperti flu biasa.

Bagi yang lain, virus SARS-CoV-2 ini adalah infeksi mematikan yang menyerang paru-paru dan menekan sistem imun atau kekebalan tubuh untuk bekerja lebih keras, menghancurkan sel-sel yang sehat.

Hidup dan mati bergantung pada kondisi kesehatan si pasien, usia, dan akses perawatan–meski tak selalu demikian.

Virus corona sudah menginfeksi lebih dari 378.000 orang di seluruh dunia. Sebagian besar mengalami kasus sedang dengan gejala yang ringan.

Tapi aksi virus ini bisa berubah cepat dan membuat peluang hidup langsung menipis. Sekitar 68.000 orang sudah sembuh sedangkan hampir 16.500 orang meninggal.

Nasib Deng dan Dr Xia menggambarkan betapa tak terduganya dampak virus ini terhadap seseorang, bertolak belakang dengan rata-rata statistik dan hasil penelitian ilmiah.

Dikutip dari laman the New York Times (13/3), ketika Tahun Baru dimulai di China, kedua perempuan itu menjalani hidup yang gemilang.

Keduanya berusia 29 tahun, keduanya sudah menikah, dan masing-masing punya anak yang masih kecil.

Deng adalah seorang perawat, sudah bekerja selama tiga tahun di Rumah Sakit No 7 Wuhan, kota tempat dia tumbuh besar dan virus corona bermula.

Ibunya juga seorang perawat. Di waktu luang mereka kerap pergi ke bioskop bersama atau berbelanja.

Kegiatan yang paling disukai Deng adalah bermain dengan anak kucingnya yang pernah dia selamatkan tiga bulan lalu sebelum dia sakit.

Dr Xia, seorang gastroenterologist, juga berasal dari keluarga petugas medis profesional. Sewaktu kecil dia suka menemani ibunya, perawat, bekerja.

Dia bergabung dengan Serikat Rumah Sakit Jiangbei di Wuhan pada 2015 dan menjadi dokter termuda di divisinya.

Rekan-rekannya memanggil dia “Sisi Mungil” atau “Anak Manis” karena dia selalu tersenyum kepada mereka.

Dikutip dari laman the New York Times pekan lalu, ketika virus baru itu muncul, kedua perempuan itu mulai bekerja lembur, merawat dan menangani pasien yang terus berdatangan seperti air bah.

Mereka sudah membekali diri dengan perlengkapan untuk perlindungan. Tapi mereka akhirnya tertular.

Virus itu masuk ke dalam paru-paru mereka, menimbulkan demam, dan pneumonia. Di rumah sakit itu keduanya mengalami kondisi yang berubah-ubah.

Satu sembuh. Satu lagi tidak.

Gejala

Gejala itu muncul tiba-tiba tanpa permisi.

Dr Xia baru saja selesai dari tugasnya piket malam pada 14 Januari ketika dia dipanggil lagi untuk memeriksa seorang pasien–pria 76 tahun dengan dugaan terinfeksi corona. Dia bolak-balik memeriksa pasien itu.

Lima hari kemudian dia mulai merasa tidak enak badan. Kelelahan, dia lalu tidur siang dua jam di rumahnya kemudian memeriksa suhu tubuhnya: 38,8. Dadanya sesak.

Beberapa pekan kemudian, awal Februari, Deng yang seorang perawat sedang bersiap makan malam di kantor rumah sakit ketika dia merasa enek dengan makanannya.

Dia menepis rasa itu, mungkin karena kelelahan. Sejak awal wabah ini merebak Deng mengunjungi sejumlah keluarga yang salah satu anggotanya positif dan dia mengajari mereka cara membersihkan rumah dengan disinfektan.

Setelah menelan paksa makanannya, Deng pulang ke rumah, mandi, lalu dia gemetaran kemudian tidur siang. Ketika bangun, suhu tubuhnya 37,7.

Demam adalah gejala paling umum dari virus corona. Hampir 90 pasien mengalaminya. Sekitar seperlima pasien mengalami napas pendek, kerap batuk dan sesak. Banyak juga yang lesu.

Kedua perempuan itu bergegas menemui dokter. Hasil scan dada memperlihatkan kerusakan paru-paru, tanda-tanda keberadaan virus corona yang ditemui hampir 85 persen pasien, menurut sebuah penelitian.

Pada kasus Deng, hasil CT scan memperlihatkan apa yang dokter sebut rapuhnya paru-paru bagian kanan bawah–ada bercak-bercak yang menandakan cairan atau radang di saluran napas.

Rumah sakit sudah tak muat lagi menampung pasien, Deng kemudian pergi ke hotel untuk menghindari dia menulari suaminya dan putri mereka berusia 5 tahun.

Dia berkeringat sepanjang malam. Pagi harinya dia dibawa ke rumah sakit. Usai diperiksa air liur dia dinyatakan positif corona.

Tempat dia dirawat adalah ruang bangsal kecil dengan dua dipan ada nomornya. Deng di ranjang nomor 28. Teman sekamarnya adalah rekannya yang juga didiagnosa terinfeksi virus corona.

Di Rumah Sakit Jiangbei, 28 kilometer jauhnya, Dr Xia berjuang untuk bernapas.

Dia ditempatkan di bangsal isolasi, dirawat oleh dokter dan perawat yang memakai pakaian pelindung lengkap dan kacamata tebal. Ruangan itu dingin.

Perawatan, hari pertama di rumah sakit

pertama di rumah sakit rev3

Ketika dirawat, Deng berusaha tetap sadar.

Dia mengirim sms ke suaminya, menyuruh dia pakai masker meski di rumah dan membersihkan semua mangkuk, sumpit, dengan air mendidih atau membuangnya sekalian.

Suaminya mengirimi sebuah foto kucing mereka di rumah dengan pesan “menunggumu pulang”.

“Mungkin aku akan 10 hari, setengah bulan,” balasnya. “Jaga dirimu baik-baik.”

Dokter yang merawatnya memberi obat antiviral yang biasa untuk mengobati flu di Rusia dan China: Tamiflu dan obat flu yang sudah populer di dunia internasional: Kaletra, obat HIV yang diduga mencegah kembang biak virus itu.

Deng minum sedikitnya 12 pil sehari ditambah pengobatan tradisional China.

Meski dia optimistis, tapi kondisi Deng makin lemah. Ibunya mengirimkan makanan yang dia masak sendiri, tapi dia tidak selera.

Untuk memberinya asupan makanan, perawat harus datang tiap pukul 08.30 pagi menyuapinya tetesan nutrisi dan obat antiviral.

Dr Xia juga sakitnya parah tapi perlahan dia mulai melawan penyakitnya. Demamnya berkurang setelah beberapa hari dan dia mulai bisa mudah bernapas setelah dipasangi ventilator.

Semangatnya bangkit. Pada 25 januari dia mengatakan kepada rekan-rekannya dia berangsur sembuh.

“Saya akan kembali bergabung dengan tim,” tulis dia dalam pesan singkat di WeChat.

“Kami sangat membutuhkanmu,” balas rekannya.

Awal Februari, Dr Xia bertanya pada suaminya, Wu Shilei, juga seorang dokter, apakah dia bisa segera berhenti menjalani terapi oksigen.

“Tenang saja. Jangan terlalu risau,” kata suaminya di WeChat. Dia mengatakan kepada Xia, ventilatornya mungkin bisa dicabut pekan depan.

“Aku terus kepikiran akan segera membaik,” jawab Xia.

Dr Xia kemudian dua kali dites negatif virus corona. Dia mengatakan kepada ibunya dia akan segera pulang pada 8 Februari.

Kondisi memburuk, hari ke-4 sampai ke-16

hari ke 4 sampai ke 16 rev9

Di hari keempat di rumah sakit, Deng sudah tidak bisa berpura-pura ceria lagi. Dia muntah-muntah, diare, dan sering gemetar.

Demamnya meningkat sampai 38,5 derajat Celcius. Pagi hari 5 Februari dia menyadari obat demam yang diberikan padanya tidak berhasil menurunkan panas.

Dia menangis. Deng dinyatakan dalam kategori kritis.

Keesokan harinya dia muntah tiga kali sampai dia meludah penuh busa. Dia merasa dirinya berhalusinasi.

Dia tidak bisa mencium bau-bauan dan detak jantungnya melemah menjadi hanya 50 detak dalam semenit.

Dalam sambungan telepon, ibu Deng meyakinkan anaknya masih muda dan bisa sehat. Virus itu akan pergi seperti flu berat biasa. Tapi Deng merasa sebaliknya.

“Aku merasa seperti di ujung kematian,” tulisnya di media sosial ketika di tempat tidur rumah sakit.

China mendefinisikan pasien kritis adalah orang yang mengalami gagal napas, kerusakan organ tubuh.

Sekitar lima persen pasien corona di China berubah kondisinya menjadi kritis, menurut penelitian terbaru kasus virus corona. Dari angka itu 49 persen meninggal.

Di sisi lain, Dr Xia tampak semakin membaik, namun dia masih takut mati. Hasil tes bisa saja salah. Jika negatif belum tentu pasien itu aman.

Dia meminta ibunya berjanji: Bisakah orangtuanya merawat anak laki-lakinya yang berusia dua tahun jika dia tidak selamat?

“Dia anakmu sendiri. Tidakkah kau mau membesarkannya sendiri?” jawab ibunya.

Dr Xia juga khawatir dengan suaminya. Lewat telepon video dia menyuruh suaminya memakai perlengkapan di rumah sakit tempat dia bekerja.

“Dia bilang dia menunggu saya pulang dengan selamat,” kata suaminya. Dan akan kembali bertugas di garda terdepan bersama saya ketika dia sudah sembuh.”

Lalu telepon berdering. Kondisi Dr Xia tiba-tiba memburuk. Pagi 7 Februari suaminya bergegas ke ruang gawat darurat.

Detak jantung Dr Xia berhenti.

Pemulihan, hari ke-17

ke 17 rev10

Dalam banyak kasus, tubuh manusia bisa pulih sendiri. Sistem kekebalan tubuh memproduksi cukup antibodi untuk melenyapkan virus dan pasien bisa sembuh.

Di akhir pekan pertama ketika Deng masuk rumah sakit, demamnya sudah berkurang. Dia bisa makan masakan ibunya yang dikirimkan kepadanya.

Pada 10 Februari selera makannya kembali pulih.

Pada 15 Februari hasil uji cairan di tenggorokannya negatif. Tiga hari kemudian dia dites lagi dan negatif. Dia bisa pulang.

Deng bertemu ibunya sebentar di pintu masuk rumah sakit. Lalu dia berjalan sendirian ke rumahnya karena Wuhan masih dikarantina wilayah dan taksi atau angkutan umum tidak beroperasi.

“Saya merasa seperti burung kecil. Kebebasan saya sudah kembali,” kenang Deng.

Dia kemudian mengisolasi diri selama 14 hari. Suami dan putrinya tinggal dengan kedua orangtuanya.

Di rumah, dia membuang pakaiannya yang dia kenakan selama di rumah sakit.

Sejak itu dia menghabiskan waktu dengan bermain bersama kucingnya dan menonton televisi. Dia mengatakan bisa merasakan seperti apa rasanya pensiun dini.

Deng juga terus berlatih pernapasan untuk memperkuat paru-parunya dan batuknya sudah hilang.

Pemerintah China sudah mendorong pasien yang sembuh mendonorkan plasma darahnya yang menurut para ahli mengandung antibodi yang bisa dipakai untuk merawat mereka yang sakit.

Deng menghubungi bank darah setempat begitu dia sampai di rumah.

Dia berencana kembali bertugas jika rumah sakit sudah mengizinkannya.

“Negara yang menyelamatkan saya,” kata dia. “Dan saya pikir saya bisa membalas kebaikan negara dengan cara ini.”

Kematian, hari ke-35

ke 35 rev8

Di meja kerja Dr Xia, rekan sejawatnya menaruh 1.000 kertas–simbol keberkatan orang China.

“Beristirahatlah dalam damai, kami akan menggunakan nyawa kami untuk memenangkan pertarungan melawan epidemi ini.”

Pada 7 Februari sekitar pukul 03.00 Dr Xia segera dibawa ke ruang intensif. Dokter memasang alat intubasi.

Lalu presiden rumah sakit memanggil sejumlah ahli di seantero kota, termasuk Dr Peng Zhiyong, kepala departemen perawatan kritis di Rumah Sakit Zhongnan.

Mereka menelepon semua rumah sakit besar di Wuhan untuk meminjam alat Ecmo, mesin untuk menggantikan kerja jantung dan paru-paru.

Jantung Dr Xia kembali berdetak. Tapi infeksi di paru-parunya terlalu parah dan membuat organ pernapasan itu tidak berfungsi.

Otaknya sudah membutuhkan pasokan oksigen dan itu membuat kerusakan permanen. Tak lama ginjalnya tidak berfungsi dan dokter harus memantau keadaannya setiap saat.

“Otak bertugas sebagai pusat pengendali segalanya,” kata Dr Peng. “Dia tidak bisa memerintah organ lainnya jadi organ lain akan gagal fungsi. Itu tinggal masalah waktu.”

Dr Xia kemudian koma. Dia dinyatakan meninggal pada 23 Februari.

Dr Peng masih bingung mengapa kondisi Dr Xia sempat membaik sebelum dia meninggal.

Sistem kekebalan tubuhnya, seperti kebanyakan para pekerja medis, sudah sering menghadapi berbagai penyakit.

Mungkin dia menderita apa yang para ahli sebut “badai sitokin”, ketika reaksi sistem kekebalan tubuh memicu sel-sel darah putih terakumulasi dan memenuhi paru-paru dengan cairan.

Mungkin dia juga meninggal karena organ tubuhnya sudah kekurangan oksigen.

Di rumah Dr Xia, putranya, Jiabao–yang berarti karunia tak ternilai–masih menganggap ibunya sedang bekerja.

Ketika telepon berdering, dia ingin mengangkat telepon itu dari tangan neneknya dan berteriak: “Mama, mama.”

Suaminya, Dr Wu, tidak tahu harus berkata apa pada Jiabao. Putranya belum mengerti arti ibunya meninggal.

Wu dan Xia bertemu ketika mereka sekolah kedokteran dan mereka masing-masing adalah cinta pertama. Mereka berencana hidup sampai tua bersama.

“Saya sangat mencintainya,” kata Dr Wu. “Sekarang dia sudah tiada. Saya tidak tahu harus bagaimana nanti, saya hanya bisa bertahan.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *