Memanusiakan Tionghoa di Indonesia

Namanya FX Harsono. Saya pertama kali melihat beliau di Wisma Indonesia, kediaman Duta Besar Indonesia untuk Australia, Kristiarto Legowo, pada Kamis (20/6) malam lalu di Canberra. Gaya berpakaiannya sederhana, sorot matanya teduh, cara berbicaranya juga menyenangkan.

Lahir pada tahun 1949, Harsono, begitu ia ingin dipanggil, sudah kenyang melewati zaman pergulatan sosial-politik yang melanda Indonesia, bahkan masih terjadi hingga saat ini. Berbicara dengannya seperti membaca buku baru dengan isi yang menarik. Ia menceritakan proses pembuatan karya seni hingga esensinya dengan tanpa berupaya menggurui. Ia menceritakan semuanya secara santai, tenang, dan mengalir, seperti percakapan antara satu teman dengan teman yang lainnya, kendati usia di antara kami berdua terpaut empat dekade lebih.

Jumat siang (21/6) itu, difasilitasi oleh Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia, saya berjumpa dan berbicara lebih banyak dengan FX Harsono di National Gallery of Australia (NGA), Canberra, Australia.

1. Identitas personal jadi nyawa karyanya

Memanusiakan Tionghoa di IndonesiaIDN Times/Isidorus Rio Turangga

Bagi Harsono, seni adalah medium terbaik baginya menyuarakan suara-suara minoritas yang pernah dikekang oleh rezim pemerintah di Indonesia. Sebagai keturunan imigran Tionghoa generasi keenam, Harsono juga dengan bangga menyebut dirinya sebagai orang Jawa, alih-alih sebagai warga peranakan atau keturunan China.

“Saya selalu membawa semangat agar masyarakat Indonesia bisa semakin inklusif seiring zaman yang terus bergerak menuju ke era keterbukaan dan era modern. Saya orang Tionghoa, tapi jujur saja, saya tidak pernah benar-benar menguasai bahasa Mandarin. Itu sesuatu yang diwariskan dari bapak saya, hingga ke generasi saya, lalu ke generasi di bawah saya,” ujar Harsono.

Warga keturunan Tionghoa, sebagai salah satu etnis minoritas, sudah mengalami diskriminasi di Indonesia sejak era kolonialisme Belanda, yang berlanjut pada rezim Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto, bahkan, mari terbuka saja mengakui hal ini, diskriminasi itu masih terasa di tahun 2019.

Hal itu yang kemudian mendorong Harsono membuat karyanya berjudul “Gazing on collective memory”, yang dibuat pada tahun 2016 lalu dan kini dipamerkan dalam Contemporary Art: Indonesia di NGA.

2. Nyala api perjuangan kaum Tionghoa di Indonesia

Memanusiakan Tionghoa di IndonesiaIDN Times/Isidorus Rio Turangga

“Gazing on collective memory” adalah karya seni kontemporer yang masuk kategori babon bagi Harsono. Karya ini sendiri merupakan perwujudan rupa dari sejarah tragis dan kelam etnis Tionghoa di Indonesia. Karya ini terdiri dari serangkaian kayu yang menopang berbagai macam barang-barang memorabilia seperti mangkuk porselen, buku pelajaran sekolah, potret foto, dan berbagai barang-barang lain yang dijelaskan oleh Harsono, merupakan barang yang seakan menjadi simbol bagi etnis Tionghoa di Indonesia.

Hal ini yang diakui Harsono menimbulkan keresahan baginya, dan mendorongnya membuat karya ini.

“Kaum Tionghoa di Indonesia itu, seperti saya bilang tadi, sudah tidak terikat dengan leluhur di China sana. Asimilasi kebudayaan itu benar terjadi bagi kami, kaum peranakan, yang sudah sekian tahun lamanya tinggal menetap di Indonesia,” urai Harsono.

Untuk memperkuat karyanya, Harsono menambahkan ratusan lilin listrik yang bergantungan di atas barang-barang ini. Menurut Harsono, lilin itu memancarkan cahaya keemasan hangat yang melambangkan kekuatan etnis Tionghoa, baik sebagai individu atau komunitas, yang hampir dihancurkan sejarah kelam yang brutal namun tetap bertahan.

3. Memanusiakan Tionghoa di Indonesia

Memanusiakan Tionghoa di IndonesiaIDN Times/Isidorus Rio Turangga

Berakhirnya Orde Baru dan rezim Soeharto memungkinkan munculnya sistem politik yang benar-benar demokratis di Tanah Air. Namun, bagi Harsono, hal itu tak membuatnya berhenti membuat karya seni yang sudah dimulainya sejak pertengahan 1970-an lalu.

“Saya ingin terus memperlihatkan sejarah yang benar kepada generasi muda Indonesia. Agar mereka bisa belajar dari kegagalan masa lalu supaya ke depannya, mampu menciptakan masyarakat Indonesia yang lebih inklusif,” kata Harsono.

Saya suka penjelasan ini. Ada rasa optimistis yang tiba-tiba membuat saya percaya bahwa sebenarnya, masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang bisa sekali diajak hidup rukun antara satu dengan yang lain.

Lalu, saya tergelitik menggoda Harsono. Isu agama saya apungkan kepadanya.

“Pak, soal agama, tentang keturunan Tionghoa yang kemudian memilih beragama Islam, apakah menurut bapak itu merupakan sesuatu yang layak disebut fenomenal di Indonesia saat ini?”, tanya saya kepadanya.

Dia tersenyum tipis, tertawa kecil sebentar, lalu menjawab dengan cukup bijak.

“Menurut saya, Tionghoa dan Islam bukan perpaduan yang aneh dan tidak seharusnya membuat banyak orang merasa itu hal yang janggal, ya. Tidak semua orang China itu Katolik atau Kristen. Lagipula, sependek yang saya tahu, pedagang dari Gujarat (India) dan China juga diyakini membawa ajaran Islam masuk ke Nusantara ketika mereka berdagang kemari. Jadi, ya, seharusnya tidak perlu merasa aneh melihat orang Tionghoa yang kemudian menjadi seorang Muslim,” jawab Harsono.

4. Tionghoa bukan para liyan di Tanah Air

Memanusiakan Tionghoa di IndonesiaIDN Times/Isidorus Rio Turangga

Narasi Tionghoa sebagai liyan, atau kerap dipahami sebagai mereka yang berbeda dari orang kebanyakan, memang menguat di era 1947-1949 pada masa-masa Perang Kemerdekaan yang melibatkan kerusuhan-kerusuhan sengit kala itu. Puncaknya, yang kemudian dikenang sebagai memori kolektif kelam dari bangsa ini, adalah Kerusuhan 1998, di mana etnis Tionghoa menjadi sasaran amuk massa dalam momen yang menandai lahirnya era Reformasi.

Dalam karyanya yang lain, “Writing in the Rain”, yang rilis pada tahun 2009, Harsono membuat karya video yang menampilkan dirinya yang sedang mencoba menuliskan nama China-nya dalam huruf Mandarin secara berulang-ulang yang terus-menerus terhapus air.

“Itu (Writing in the Rain) adalah pesan yang ingin saya sampaikan bahwa etnis Tionghoa bukan orang yang terasa asing bagi suku-suku lain yang ada di Indonesia. Asimilasi budaya itu benar-benar terjadi dan saya adalah orang Indonesia, bukan orang China. Saya orang Indonesia yang lahir, besar, dan kemudian tinggal menetap di Jawa,” tegasnya.