Mengenal Binturong, Hewan Langka yang Diduga Isap Darah Ternak di Taput

Binturong dikaitkan dengan kasus matinya puluhan hewan ternak di Tapanuli Utara (Taput) dengan kondisi darah terisap. Sebenarnya, hewan seperti apa sih binturong tersebut?

Dilihat dari situs daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN), Selasa (30/6/2020), binturong masuk hewan dalam golongan ‘vulnerable’ alias rentan. Kategori ini merupakan urutan ke-5 sebelum suatu spesies dinyatakan punah.

IUCN menyebut populasi binturong terus berkurang. Spesies ini disebut tersebar di sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Myanmar dan lainnya.

Menurut data IUCN, binturong diprediksi masih tersebar luas di hutan dataran rendah Aceh dan hutan dataran tinggi seluruh Sumatera. Hewan ini disebut sering tertangkap kamera di kawasan hutan Batang Toru, Tapanuli Selatan, serta hutan Kerinci.

Binturong disebut bisa hidup hingga 6 tahun. Satwa ini rentan punah karena habitatnya yang terus berkurang serta perburuan sebagai hewan peliharaan.

Sejumlah cara telah dilakukan untuk melindungi binturong. Antara lain dengan memasukkannya dalam undang-undang sebagai satwa dilindungi hingga membuat kawasan hutan lindung demi menjaga kelestarian spesies binturong.

Pemerintah Indonesia sendiri telah menjadikan binturong yang punya nama latin Arctictis binturong ini sebagai satwa dilindungi. Hal tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor P.92/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018 tentang Perubahan atas Permen LHK nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Sebelumnya, hewan yang masuk dalam keluarga Viverridae atau yang dikenal sebagai musang ini diduga berada di balik serangan misterius terhadap ternak warga di Taput. Meski demikian, pihak BKSDA bersama pemerintah setempat masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan hewan yang menyerang ternak warga.

“Kemungkinan besar mengarah ke sana (disebabkan Binturong),” ujar Kepala Bagian Tata Usaha BKSDA Sumut Teguh Setiawan, saat dimintai konfirmasi, Senin (29/6).

Teguh mengatakan dugaan itu masih bersifat sementara karena hewan yang memangsa ternak tersebut belum juga tertangkap. Dugaan soal binturong ini, kata Teguh, didasarkan pada keterangan warga yang sempat melihat hewan tersebut.

“Tapi berdasarkan ciri-ciri dari keterangan masyarakat begitu. Informasi masyarakat itu berbulu hitam, terus ada loreng putihnya. Kemungkinan itu (Binturong),” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *