Mohamed Salah: Dari Dusun Kecil di Mesir ke Panggung Eropa

(Update) – Kalau ada bintang yang saat ini paling bersinar di Liga Primer Inggris, bahkan di Eropa, bintang itu pastilah bernama Mohamed Salah.

Pemain Liverpool ini mencetak 22 gol di ajang Liga Primer Inggris musim 2018/2019, membuatnya menjadi pencetak gol terbanyak bersama Perrre-Emerick Abuameyang dan Sadio Mane –keduanya juga mencetak 22 gol.

Sayang Liverpool gagal merebut trofi Liga Premier Inggris pada detik-detik terakhir. Meski begitu banyak yang memuji performa Salah dan Liverpool. Salah satunya dari pelatih Manchester city Josep Guardiola.

“Saya harus mengucapkan selamat dan terima kasih kepada Liverpool. Perfoma hebat mereka mendorong kami untuk terus tampil lebih baik,” kata Guardiola seperti dikutip dari laman resmi Manchester City, Senin (13/5).

Manchester city  adalah juara Liga primer Inggris musim ini. Mereka hanya unggul satu poin dari Liverpool. Namun selisih satu poin itu sudah cukup untuk menghancurkan impan Salah meraih trofi Liga Premier Inggris.

Namun Salah masih punya mimpi lain, yakni memboyong trofi Liga Champions Eropa. Sebab Liverpool telah merebut satu tiket final Liga Champions setelah mengalahkan Barcelona. Di final nanti mereka akan menghadapi Tottenham Hotspur.

Bagi salah, bermain di final Liga Champions tak pernah ada dalam angan-angan masa kecilnya. Sebab ia hanya berasal dari dusun kecil di pelosok Mesir.

Berikut lika-liku perjalanan Mohamed Salah dari dusun kecilnya ke puncak sepak bola Eropa:

1. Salah membaca garis nasibnya sejak kecil

Mohamed Salah: Dari Dusun Kecil di Mesir ke Panggung Eropa Anak-anak Desa Najrij bermain di lapangan. Dailymail/Ahmad Abd El-Gawad

Mohamed Salah lahir di Basion, Gharbia, Mesir, pada 15 Juni 1992. Ia tumbuh di sebuah desa kecil bernama Najrij, sekitar 150 kilometer dari Ibu Kota Kairo.

Tak jauh dari rumah Salah, sekitar dua menit berjalan kaki, terdapat lapangan tempat anak-anak bermain sepak bola. “Saya dan teman-teman selalu bermain bola di sana,” kata Salah mengenang masa kecilnya seperti dikutip dari liverpool.com.

Di antara teman-temannya itu, ada satu anak yang sangat akrab dengannya. Suatu hari seusai bermain bola, kata Salah, teman tersebut mengatakan,”Suatu hari kamu pasti akan menjadi pemain hebat!”

Ramalan tersebut bukan tanpa alasan. Sebab bakat Salah dalam mengolah bola memang sudah terlihat sejak kecil.

Salah sendiri bukan tak menyadari bakat besarnya tersebut. “Saya biasanya bermain sepak bola dengan saudara laki-laki saya, tapi dia tidak terlalu jago, setidaknya tidak sejago saya,” kata Salah sambil terkekeh.

2. Mohamed Salah ditemukan pencari bakat

Mohamed Salah: Dari Dusun Kecil di Mesir ke Panggung Eropa Salah saat berfoto bersama teman-temannya dari klub Contractors FC. Goal.com

Salah kecil tak hanya bermain bola di lapangan atau di jalan-jalan yang sepi penuh debu di desanya, tapi juga di kompetisi-kompetisi lokal. Salah satu kompetisi yang diikutinya adalah Liga Pepsi –kompetisi sepak bola untuk anak-anak.

Kompetisi ini digelar di Kota Tanta, sekitar 30 menit perjalanan darat dari Desa Najrij. Salah mengingat saat itu usianya baru 14 tahun. Tubuhnya kecil dan kurus seperti capung. Namun ia sangat lincah dan lihai memainkan bola.

Permainannya yang atraktif ini memukau seorang pencari bakat dari klub sepak bola Contractors FC (El Mokawloon) yang bermarkas di Kairo. Saat itu juga pencari bakat ini langsung menawarkan kontrak untuknya.

“Usia saya baru 14 tahun ketika saya meneken kontrak dengan klub profesional (Contractors FC),” kata Salah seperti dikutip dari laman resmi Liverpool.

3. Jalan berliku yang ditempuh Salah

Mohamed Salah: Dari Dusun Kecil di Mesir ke Panggung Eropa Jalanan di Desa Najrij, Mesir. Dailymail/Ahmad Abd El-Gawad

Setelah meneken kontrak, bukan berarti segala sesuatunya menjadi mudah. Sebaliknya, Salah menyebut periode ini sebagai masa-masa paling berat dalam hidupnya.

Sebab Contractor FC bermarkas di Kairo. Itu berarti Salah kecil harus menempuh jarak 150 kilometer dari dusunnya hanya untuk berlatih sepak bola.

“Perjalanan menuju tempat saya berlatih sekitar empat atau lima jam setengah (sekali jalan). Dan saya harus menjalaninya lima hari dalam sepekan,” kata Salah.

Jangan bayangkan ada bus antar jemput untuk pulang-pergi latihan. Sebaliknya, Salah harus berganti setidaknya lima bus untuk sampai ke Kairo. “Itu adalah waktu yang sangat berat buat saya,” katanya.

4. Memangkas waktu sekolah

Mohamed Salah: Dari Dusun Kecil di Mesir ke Panggung Eropa Twitter/@22mosalah

Waktu tempuh yang lumayan lama untuk pergi-pulang latihan membuat Salah harus mengorbankan waktu sekolahnya. Setiap hari, ia hanya belajar selama dua jam di sekolah, yakni pada pukul 07.00 hingga 09.00.

Setelah itu ia harus berpacu dengan waktu agar bisa sampai di tempat latihan sebelum pukul 14.00. Latihan dimulai 30 menit kemudian dan baru selesai sekitar pukul 18.00.

Perjuangan belum berhenti, sebab Salah masih harus kembali menempuh 4 jam perjalanan pulang. “Saya biasanya tiba di rumah sekitar pukul 10 malam. Setelah itu makan, tidur. Setiap hari saya melakukan rutinitas ini,” kata Salah.

5. Salah kehilangan masa remaja

Mohamed Salah: Dari Dusun Kecil di Mesir ke Panggung Eropa liverpool.com

Masa remaja Salah habis untuk sepak bola. Jadwal latihan yang padat plus perjalanan panjang yang harus ditempuhnya untuk berlatih membuat Salah tak punya cukup waktu untuk bermain bersama teman-teman sebayanya.

Namun ia cukup tabah untuk itu. Sebab Salah menyimpan mimpi menjadi pemain sepak bola dunia. “Saya ingin menjadi seperti Ronaldo (Luis Nazario de Lima), (Zinedine) Zidane, dan (Francesco) Totti,” katanya.

Ramalan temannya bahwa ia akan menjadi pemain hebat juga selalu terngiang-ngiang di benaknya. Harapan, impian, dan mungkin juga ramalan inilah yang membuat Salah remaja bisa menjalani masa-masa berat tersebut.

“Saya masih berusia 14 tahun, tidak punya apa-apa, dan tidak tahu apa yang akan terjadi kelak. Saya hanya punya mimpi menjadi pemain sepak bola. Itu saja modal saya,” kata Salah.

6. Salah sempat mengalami masa galau

Mohamed Salah: Dari Dusun Kecil di Mesir ke Panggung Eropa Twitter/@22mosalah

Meski telah direkrut Contractor FC, tak berarti masa depan Salah sudah terjamin. Sebab, bagaimanapun, Contractor FC hanyalah klub di Mesir. Dan, kalau mau jujur, Mesir bukanlah raksasa dalam sepak bola Afrika, apalagi Eropa.

Sementara impian Salah menjadi bintang dunia. Tak mengherankan jika Salah sempat mengalami masa-masa galau terhadap masa depannya. Sebab, ia telah mengorbankan sekolahnya. Jika ia gagal menjadi pemain sepak bola, maka apa lagi yang tersisa untuk masa depannya?

“Selalu muncul pertanyaan di benak saya ketika itu, ‘Apakah saya akan menjadi pemain sepak bola hebat?’ atau ‘Apakah ini realistis?'” kata Salah. “Sebab jika saya ternyata tidak cukup berbakat, maka saya akan benar-benar dalam kesulitan.”

7. Salah menjadi ‘Messi dari Mesir’

Mohamed Salah: Dari Dusun Kecil di Mesir ke Panggung Eropa Twitter/@22mosalah

Perjuangan panjang Salah menjadi pemain bintang tak sia-sia. Sebab, pelan tapi pasti, karier sepak bola Salah terus melejit. Dari Contractors FC, Salah sempat direkrut FC Basel, Fiorentina, Chelsea, sebelum akhirnya berlabuh di Liverpool, klub yang membuat namanya bersinar.

Bersama Liverpool, Salah telah mencetak 32 gol dalam 36 pertandingan Liga Primer Inggris, membuatnya menjadi pencetak gol terbanyak sementara di liga paling bergengsi di Inggris. Namanya kini bahkan disejajarkan dengan nama-nama besar lain seperti Eden Hazard dan bahkan ada yang menyebutnya Messi dari Mesir!

Bukan sebutan yang berlebihan. Sebab, seperti Messi, Salah pun lebih banyak bermain sebagai pemain sayap kanan. Ia juga kidal dan tubuhnya mungil seperti Messi. Soal keincahan, Salah juga 11-12 dengan Messi.

“Beberapa kali saya melihat Salah beraksi di kotak penalti, setiap kali saya mengira itu Lionel Messi, ternyata itu adalah Mohamed Salah,” kata legenda Liverpool Ian Rush seperti dikutip dari tribalfootball.com.

Salah enggan mengomentari julukan ‘Messi dari Mesir’ yang dilekatkan kepadanya. Kepada situs resmi Liverpool, Salah hanya mengatakan dirinya sangat beruntung bisa menjadi bagian dari The Reds –julukan Liverpool.

“Saya masih berseragam Chelsea ketika datang pertama kali ke Anfield,” kata Salah mengenang. “Saat itu saya berkata kepada diri saya sendiri, ‘Suatu hari nanti saya harus bermain untuk mereka (para pendukung Liverpool yang memenuhi stadion)’,” kata Salah.

Kini salah tak hanya bermain untuk Liverpool, tapi ia juga memberikan sesuatu yang selama ini mungkin tak lagi dirasakan para Kopites –julukan pendukung Liverpool– setelah mereka ditinggal Luis Suarez ke Barcelona, yakni kebanggaan!