Pengamat Ekonomi: Harga Kedelai Dunia Naik

 

Belakangan ini, masyarakat meributkan kenaikan harga tahu dan tempe, termasuk di Pulau Jawa dan Sumatera Utara. Dari satu potong kecil yang biasanya Rp 2000 saat ini dijual dengan harga 2500-an rupiah per potong.

Selain menjadi sumber protein, tempe ini menjadi makanan yang melekat di mayoritas rumah tangga di tanah air. Produk olahan tempe juga banyak dikonsumsi masyarakat.

Mengenai kenaikan itu, Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, wajar saja jika kenaikan harga tempe menjadi obrolan yang viral dan tentunya menjadi masalah bagi pedagang tempe.

“Jika tahu maupun tempe harganya naik, maka sudah pasti peminatnya turun,” kata Gunawan dalam siaran persnya sebagaimana diterima Analisadaily.com, Selasa (5/1).

Maka, kata dia, tempe dan tahu serta produk olahan turunannya ditinggal masyarakat. Namun di Sumatera Utara tidak begitu banyak diperbincangkan oleh masyarakat. Karena konsumen produk olahan kedelai di sini tidak sebanyak di pulau lain.
Nah, dia lanjut menceritakan, apa yang membuat produk kedelai seperti tempe ini mengalami kenaikan. Menurut Gunawan, tidak lain karena kenaikan komoditas kedelai di pasar internasional.
“Harga kedelai mengalami kenaikan setidaknya dalam 6 bulan terakhir. Saat ini harga kedelai di jual dikisaran $13.19 per Bushel. Jika dihitung, harga kedelai sempat menyentuh $ 8.6 per bushel. Akan tetapi harga tersebut terus menanjak hingga menjelang akhir tahun dikisaran angka $13-an per bushel saat ini. Kenaikan ini menjadi pemicu kenaikan harga tempe maupun tahun di tanah air,” papar Gunawan.
“Karena kedelai kita masih banyak didatangkan dengan cara impor dari negara lain. Maka harga produk olahannya juga mengikuti tren perkembangan harga komoditas global. Ini yang membuat harga tempe maupun tahu mengalami kenaikan,” tuturnya.
ia menambahkan, sekalipun tempe maupun tahu adalah makanan khas Indonesia, namun bahan bakunya harus didatangkan dari negara lain, karena harga yang lebih bersaing.