Ritel China Susut, Pemulihan Ekonomi Diproyeksi Melambat

Pemerintah China melansir penjualan ritel pada Juli turun 1,1 persen secara tahunan. Data ini mengindikasikan bahwa pemulihan ekonomi akibat pandemi covid-19 akan melambat seiring dengan menyusutnya konsumsi masyarakat.

 

Penjualan ritel yang merupakan indikator sentimen konsumen meleset dari proyeksi menunjukkan keengganan masyarakat untuk berbelanja dan keluar rumah, meski  Pemerintah China tampak mampu mengendalikan pandemi covid-19.

 

Walau penjualan barang dagang mampu tumbuh di level 0,2 persen, namun secara keseluruhan, pertumbuhan digerus industri katering yang menerima pukulan hebat dengan penurunan penjualan sebesar 11 persen.

 

Sektor ritel sendiri memiliki peran penting dalam perekonomian China, sebab Pemerintah China tidak menakar pertumbuhan ekonomi lewat investasi dan perdagangan, melainkan konsumsi.

 

Konsumsi domestik dinilai krusial di tengah mandeknya permintaan negara luar yang sibuk memerangi pandemi virus corona.

 

Juru Bicara Biro Statistik Nasional (NBS) China Fu Linghui mengklaim bahwa data ekonomi menunjukkan tren pemulihan yang stabil.

 

Ia bilang produksi industri tumbuh sebesar 4,8 persen pada Juli. Meski tak lebih buruk dari capaian bulan sebelumnya, namun angka ini masih di bawah prediksi analis Bloomberg, tumbuh di kisaran 5,2 persen.

 

Sedangkan, investasi aset tetap turun 1,6 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Angka ini lebih baik dari Juni, namun masih dinilai lemah.

 

“Ini bukan angka ekonomi terbaik dari China dengan penjualan ritel dan produksi industri yang mengecewakan,” kata Kepala Strategi Pasar Global AxiCorp Stephen Innes seperti dikutip dari AFP, Jumat (14/8).

 

“Kekhawatiran yang nyata akan permintaan ritel menunjukkan bahwa dibutuhkan lebih dari sekadar stimulus dan diskon besar-besaran pada produk mewah untuk mendorong belanja,” lanjutnya.

 

China tengah berusaha pulih dari kontraksi ekonomi pada kuartal I 2020. Pertumbuhannya sempat terkontraksi 6,8 persen akibat penutupan aktivitas di seluruh China pada awal tahun. Pandemi juga telah menutup berbagai bisnis dan merampas jutaan pekerjaan secara global.

 

NBS menyatakan bahwa tingkat pengangguran Juli masih stabil di level 5,7 persen. Namun, para analis memperingatkan potensi lonjakan pengangguran.

 

Ketika beberapa negara dengan ekonomi tangguh masuk ke jurang resesi, China yang merupakan negara ditemukannya covid-19 malah berhasil pulih lebih cepat. PDB China dinyatakan naik 3,2 persen pada kuartal kedua dan mengantarkannya keluar dari ancaman resesi.