Sembilan Teroris Serbu Sekolah di Kamerun, Enam Anak Dibantai Saat Sedang Belajar

Sebuah sekolah diserang di Kumba, Kamerun pada Sabtu. Penyerang yang bersenjatakan pistol dan parang membunuh delapan anak di TKP. Kabar ini disampaikan PBB.

Tak ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan di sekolah dwibahasa di Kumba,

tapi wilayah ini telah tiga tahun terperangkap dalam kekerasan antara separatis Anglophone dan pasukan pemerintah.

“Setidaknya delapan anak dibunuh akibat tembakan dan serangan menggunakan parang,” di Mother Francisca International Bilingual Academy, jelas sebuah pernyataan oleh Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).

“12 lainnya terluka dan dilarikan ke rumah sakit setempat,” lanjut pernyataan itu, dikutip dari France 24, Senin (26/10).

Serangan ini adalah serangan terburuk di wilayah tersebut.

Sebuah sumber yang dekat dengan kepolisian menambahkan, anak-anak dibunuh ketika sembilan teroris menyerbu sekolah itu dan mengeluarkan tembakan ke para pelajar yang berusia sembilan sampai 12 tahun.

“Tak ada kata-kata untuk duka cita maupun kecaman yang keras untuk mengungkapkan kengerian saya atas serangan brutal itu yang menargetkan sekolah dasar, saat mereka sedang duduk belajar di ruang kelas mereka,” ungkap Presiden Uni Afrika, Moussa Faki Mahamat di Twitter.

“Saya dengan jelas mengutuk aksi barbarisme yang terjadi di Kumba.

Membunuh anak-anak adalah menyerang fondasi bangsa kita,” kata Menteri Kesehatan Masyarakat Kamerun, Malachie Manaouda.

Dua wilayah penutur Bahasa Inggris di Kamerun, Provinsi Barat Daya dan Provinsi Barat Laut, telah lama mengalami diskriminasi dari mayoritas penutur bahasa Prancis di negara itu.

Dua wilayah ini menjadi pusat konflik yang melibatkan militan separatis yang menargetkan tentara dan meminta penutupan kantor pemerintah daerah dan sekolah.

Pertempuran telah menelan lebih dari 3.000 nyawa dan memaksa 700.000 orang meninggalkan rumahnya sejak 2017.

Pihak berwenang tak menyalahkan kelompok manapun atas serangan tersebut.