Serangan Taliban Lebih Mematikan dari ISIS Selama 2018

Serangan-serangan Taliban lebih mematikan dibandingkan serangan sejenis yang dilakukan kelompok militan lainnya selama 2018, menurut laporan yang dirilis lembaga peneliti internasional pada Rabu.

Indeks Terorisme Global 2019 menemukan Taliban lebih banyak menghilangkan nyawa dibandingkan ISIS tahun lalu.

Kendati jumlah keseluruhan kematian karena terorisme menurun tahun 2018, menurut laporan tersebut, 71 negara mendata setidaknya satu orang tewas karena terorisme.

Afghanistan adalah negara yang paling berdampak, dengan lebih dari 7.000 kematian.

Indeks tersebut juga mengidentifikasi peningkatan tajam terorisme kelompok sayap kanan secara global, khususnya di Eropa dan Amerika Utara. Demikian dilansir dari CNN, Rabu (20/11).

Laporan tersebut dirilis Institut Ekonomi dan Perdamaian, organisasi peneliti non partisan yang mengembangkan metrik untuk mengkaji perdamaian dan dampak ekonominya.

Datanya diambil dari Basis Data Terorisme Global dari Konsorsium Nasional untuk Studi Terorisme dan Tanggapan terhadap Terorisme. Basis data mencakup kematian para penyerang dengan angka yang cukup tinggi.

Angka Kematian karena Taliban Melonjak

Menurut Kepala Eksekutif Institut Ekonomi dan Perdamaian, Steve Killelea, Taliban menyumbang 38 persen angka kematian secara global.

Taliban disebut bertanggung jawab atas sejumlah serangan mematikan tahun 2018 seperti serangan di Ghazni pada Agustus yang menewaskan sedikitnya 466 orang, termasuk 326 penyerang, menurut data.

“Tahun 2018, target utama Taliban adalah militer dan anggota┬ápolisi, yang tercatat dari 53 persen serangan dan 59 persen dari semua kematian,” kata laporan tersebut.

“Tahun 2018, lebih dari 3.600 anggota militer dan polisi tewas dalam sejumlah serangan Taliban.”

Amerika Serikat mulai negosiasi damai dengan Taliban, dipimpin utusan khusus Zalmay Khalilzad, pada akhir 2018.

Presiden Donald Trump menghentikan perundingan formal awal September 2019 setelah Taliban mengklaim serangan di Kabul yang menewaskan puluhan orang, termasuk tentara AS.

Serangan ISIS Turun Drastis

Laporan tersebut menemukan ISIS bertanggung jawab untuk 1.328 kematian selama 2018 — menurun drastis dari tahun sebelumnya.

Ini baru pertama sejak 2014 ISIS tak masuk dalam kelompok mematikan, kata laporan tersebut.

“Penurunan dramatis dalam aktivitas (ISIS) dalam dua tahun terakhir utamanya karena keberhasilan pasukan lokal dan koalisi internasional pimpinan AS, yang mengalahkan ISIS di Suriah dan Irak,” tulis laporan itu.

Trump telah menggembagemborkan keberhasilan pemerintahannya melawan ISIS. Walaupun demikian, pejabat AS memperingatkan kendati kekhalifahan ISIS telah jatuh, organisasi teroris itu masih menjadi ancaman.

Peningkatan Terorisme Sayap Kanan

Indeks Terorisme Global 2019 juga mengidentifikasi peningkatan drastis terorisme sayap kanan, walaupun dinyatakan sebagian kecil dari total terorisme di seluruh dunia.

Laporan itu menjelaskan sayap kanan adalah ideologi politik yang berpusat pada satu atau lebih unsur berikut ini: nasionalisme garis keras (biasanya rasial dan eksklusif dalam beberapa hal), fasisme, rasisme, anti-Semit, anti-imigrasi, chauvinisme, nativisme, dan xenophobia.

Laporan tersebut juga termasuk serangan September 2019, termasuk serangan penembakan teroris di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru dan penembakan massal di Walmart, El Paso, Texas.

“Terorisme sayap kanan adalah fenomena Barat, sebuah fenomena demokrasi Barat,” kata Killelea kepada CNN.

“Kami menemukan bahwa lebih dari lima tahun terakhir, angka insiden meningkat mencapai 320 persen,” lanjutnya.

Dalam laporan itu juga tercatat teroris sayap kanan ini memiliki dampak besar di AS.

“Di AS selama 2018, tak ada serangan yang dilakukan kelompok teroris ternama. Dari 57 kejadian, 28 dilakukan ekstremis sayap kanan, 27 oleh pelaku tak dikenal, dan dua oleh ekstremis jihadi,” kata laporan tersebut.