Terapkan 3S untuk Mencegah Terjadinya Osteoporosis

Salah satu masalah tulang yang rentan dialami banyak orang adalah osteoporosis.

Pakar Gizi Medik FKUI-RSCM Prof. Dr. dr. Saptawati Bardosono, MSc menjelaskan kampanye 3S sebagai langkah nyata cegah osteoporosis.

“Osteoporosis merupakan penurunan kualitas dan kepadatan tulang yang dapat membuat tulang lebih rapuh dan mudah patah.

Nutrisi seperti kalsium dan vitamin D sangat penting untuk kesehatan tulang,” ujar Saptawati beberapa waktu lalu.

Di Asia, osteoporosis merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling umum dan mahal, di mana kemajuan sosial ekonomi dibarengi dengan populasi penduduk yang menua dengan cepat.

Di Asia Tenggara, Osteoporosis memiliki dampak yang parah pada kualitas hidup dan kemandirian penderitanya, dan merupakan beban sosial dan ekonomi yang cukup besar bagi individu, komunitas dan sistem kesehatan masyarakat.

Maka dari itu, kampanye 3S mulai disuarakan dengan tujuan meningkatkan kepedulian masyarakat luas dan langkah nyata untuk mencegah osteoporosis agar kesehatan dan kualitas hidup dapat terjaga.

Kampanye 3S terdiri dari saatnya mulai dari dini, sediakan nutrisi dan terapkan pola hidup sehat, serta suplementasi dengan vitamin D dan kalsium.

S-1 Saatnya Mulai Dini

Mulai menjaga kesehatan tulang sejak disebut sangat penting karena nutrisi ibu saat hamil memengaruhi kepadatan tulang anak saat usia dewasanya.

Sejak lahir hingga masa kanak-kanak terjadi pertumbuhan pesat yang melibatkan tulang.

Saat akhir usia pubertas (18-19 tahun) masa puncak perkembangan tulang mencapai 95 persen yang akan terus berlanjut dan akan berhenti di usia 30 tahun.

Setelah usia 40, akan terjadi kehilangan massa tulang sekitar 0,5 persen setiap tahunnya.

1 dari 3 perempuan dan 1 dari 5 laki-laki akan mengalami patah tulang karena osteoporosis. Kejadiannya lebih sering dibanding gabungan dari serangan jantung, stroke, dan kanker payudara.

Terapkan 3S untuk Mencegah Terjadinya Osteoporosis

S-2 Sediakan Nutrisi dan Pola Hidup Sehat

Menurut Saptawati, tulang terlihat keras dan tidak tergantikan serta tidak mempunyai aktivitas dalam tubuh.

Namun, tulang tetaplah jaringan hidup yang bersifat dinamis seperti bagian tubuh lainnya.

Tulang melakukan pelepasan massa dan perbaikannya sendiri. Tulang terdiri dari komponen mineral, protein, jaringan ikat, serabut saraf, dan pembuluh darah serta adanya sumsum di bagian tengahnya.

“Terapkan pola makan gizi seimbang dengan makanan segar untuk mendapatkan asupan nutrisi mendukung kesehatan tulang.

Aktivitas dan latihan fisik teratur untuk sinyal tulang melakukan remodeling,” terangnya.

S-3 Suplementasi dengan Kalsium dan Vitamin D

Tulang mengandung 99 persen kalsium tubuh maka dari itu dibutuhkan asupan sekitar 600-1200 mg kalsium per hari, terutama saat masa pertumbuhan cepat.

Tulang juga membutuhkan vitamin D sebagai sinyal hormonal.

Saptawati juga mengutip International Journal of Nutrition and Food Science Literatur: “Relevance of Calcium and Vitamin D in Supporting Bone Health: An Expert Panel Recommendation in Indonesia” yang menyebutkan bahwa Kalsium dan Vitamin D bekerja secara sinergis untuk menjaga kesehatan tulang.

“Asupan kalsium dan vitamin D harus dimulai sejak dini.

Sedang, suplementasi dapat mengimbangi kekurangan asupan kalsium dan vitamin D yang direkomendasikan setiap hari,” kata Saptawati.

The American Food and Nutrition Board (FNB) dan pedoman International Osteoporosis Foundation (IOF) menyatakan pentingnya Kalsium dan vitamin D dalam melindungi dan memelihara kesehatan tulang, dengan merekomendasikan peningkatan asupan kedua nutrisi tersebut seiring bertambahnya usia.

Kandungan kalsium dan vitamin D bisa bekerja secara sinergis.

Kalsium berfungsi untuk membangun dan memelihara tulang sedangkan vitamin D bertugas membantu penyerapan kalsium yang efektif. Kondisi ini bisa ideal untuk mencegah osteoporosis.